Transformasi tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam penyelenggaraan 4th Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang akan berlangsung pada 8—10 Juli 2026.
Ketua Bidang PKS Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) sekaligus Ketua Panitia TPOMI 2026, Posma Sinurat, mengatakan tantangan industri sawit saat ini tidak lagi semata mengejar peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan daya saing pabrik.
"TPOMI adalah forum transformasi dan talenta pabrik kelapa sawit Indonesia. Ajang ini menjembatani praktisi, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, vendor teknologi, media, hingga mahasiswa," ujar Posma dalam diskusi bersama media, Selasa (2 Juni 2026).
Menurutnya, banyak PKS masih mengandalkan pencatatan manual dan pengambilan keputusan yang bergantung pada pengalaman individu. Model tersebut dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan industri yang semakin kompleks.
Karena itu, TPOMI mendorong penerapan konsep smart, predictive, and data-driven palm oil mill melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), otomatisasi, hingga predictive maintenance.
"Prinsipnya teknologi harus aplikatif, terukur, dan memberi dampak nyata terhadap efisiensi, produktivitas, K3, dan keberlanjutan pabrik," kata Posma.
Pemanfaatan IoT memungkinkan perusahaan memantau temperatur, tekanan, getaran mesin, hingga performa stasiun kritis secara real-time. Sementara AI dapat digunakan untuk memprediksi kerusakan mesin, mengidentifikasi potensi kehilangan minyak (oil losses), serta membantu pengambilan keputusan berbasis data.
Teknologi tersebut dinilai mampu menekan downtime, meningkatkan rendemen, mengurangi konsumsi energi, dan memperbaiki profitabilitas perusahaan.
Dry Process Jadi Alternatif Baru
Selain digitalisasi, TPOMI 2026 juga menyoroti perkembangan teknologi dry process atau proses kering yang digadang-gadang menjadi solusi bagi industri sawit rendah emisi.
Direktur Industri Kemurgi, Oleokimia, dan Pakan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Krisna Septiningrum, mengatakan teknologi tersebut menawarkan pendekatan berbeda dibanding proses konvensional yang selama ini bergantung pada penggunaan uap panas (steam) dalam jumlah besar.
Menurutnya, dry process bekerja pada suhu yang lebih rendah dengan memanfaatkan proses enzimatis dan penambahan mineral sehingga lebih efisien dari sisi energi serta menghasilkan limbah yang lebih sedikit.
"Teknologi ini jauh lebih efisien karena beroperasi pada suhu yang lebih rendah dan tidak membutuhkan steam dalam jumlah besar seperti proses konvensional," ujarnya.
Melalui teknologi tersebut, produk yang dihasilkan bukan lagi crude palm oil (CPO), melainkan Palm Mesocarp Oil (PMO) atau Degummed Palm Mesocarp Oil (DPMO) yang memiliki tingkat kontaminan lebih rendah.
Selain mengurangi limbah cair dan emisi karbon, PMO juga memiliki nilai tambah karena mampu mempertahankan kandungan vitamin A dan vitamin E yang lebih tinggi dibandingkan produk sawit konvensional.
Kemenperin mencatat penggunaan dry process berpotensi menurunkan emisi karbon sekitar 7% dibandingkan metode basah (wet process), sekaligus memangkas produksi Palm Oil Mill Effluent (POME) yang selama ini menjadi salah satu sumber emisi sektor sawit.
Saat ini proyek percontohan teknologi tersebut telah berjalan di Yogyakarta dan Sukabumi. Pemerintah juga tengah menyiapkan ekspansi ke Labuhan Batu.
Untuk fasilitas miniplant berkapasitas 2 ton per jam, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai sekitar Rp13 miliar, di luar biaya operasional.
GAPKI: Hulu Tetap Harus Diperkuat
Di sisi lain, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengingatkan bahwa transformasi teknologi harus berjalan beriringan dengan pembenahan sektor hulu.
Ketua Bidang Perkebunan GAPKI, Azis Hidayat, mengatakan kinerja industri sawit nasional masih menunjukkan tren positif. Produksi sawit sepanjang 2024 tercatat mencapai 51,686 juta ton atau meningkat 7,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut berlanjut hingga kuartal I/2026 yang didorong meningkatnya konsumsi biodiesel domestik.
Meski mendukung pengembangan teknologi baru, GAPKI menilai pemerintah perlu segera menyusun peta jalan kapasitas PKS nasional guna menghindari kelebihan kapasitas industri sekaligus memperkuat posisi PKS swadaya dan petani.
Selain itu, percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyelesaian persoalan sawit di kawasan hutan, hingga penguatan kemitraan antara petani dan pabrik dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri.
Posma menambahkan transformasi industri sawit tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan sistem modern secara disiplin dan akurat.
"Teknologi secanggih apa pun tidak akan menghasilkan manfaat maksimal tanpa talenta yang mampu mengoperasikan dan mengelolanya dengan baik," katanya.














