• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

Industri Sawit Didorong Berubah, HASI 2026 Angkat Isu Teknologi dan Kolaborasi

Jakarta, SAWIT INDONESIA — Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu, 22 April 2026, menyoroti pentingnya kolaborasi dan penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas industri sawit di tengah tekanan global.

Ketua Pelaksana HASI 2026 yang juga Direktur Utama Hai Sawit, M. Gema Aliza Putra, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menjadi bukti keberlanjutan inisiatif yang lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. “Ini bukan sekadar ide di atas kertas, melainkan berangkat dari keresahan para profesional yang ingin mendorong industri sawit lebih maju,” ujarnya.

Ia menyebut jumlah peserta dan eksibitor meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini, sebanyak 40 eksibitor ambil bagian, naik dari 30 eksibitor pada 2025. Dukungan juga datang dari berbagai pemangku kepentingan di Indonesia dan Malaysia.

Menurut Gema, HASI tidak hanya berfungsi sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi. Ia menekankan bahwa masa depan industri sawit tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada koneksi dan kerja sama lintas sektor. “Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan kolaborasi tersebut,” katanya.

Ketua Umum Himpunan Profesional Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI), Ir. M. Syarif Rafinda, menilai HASI 2026 memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan industri. Ia menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan gerakan kolektif para profesional sawit.

“Industri sawit saat ini berada di titik krusial. Tekanan ekonomi global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah, serta tuntutan keberlanjutan memaksa kita untuk beradaptasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, industri sawit perlu bertransformasi dengan mengadopsi teknologi modern seperti kecerdasan buatan (AI) dan sistem digital terintegrasi. Dalam simposium ini, berbagai isu praktis dibahas, mulai dari penggunaan drone, pengelolaan konflik sosial, hingga efisiensi logistik dan transportasi.

Tema HASI 2026 mengangkat pembaruan praktik terbaik (best management practices/BMP) perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Tema ini diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan energi.

Syarif juga menyoroti keberhasilan penyelenggaraan HASI 2025 yang menghadirkan sekitar 700 profesional dari kedua negara. Ia berharap capaian tersebut dapat dilanjutkan dan ditingkatkan pada tahun ini.

Menurut dia, industri sawit tidak dapat berkembang secara parsial. Kolaborasi lintas negara, sektor, dan keahlian menjadi kunci untuk menjaga peran strategis sawit sebagai tulang punggung ekonomi dan energi masa depan.

“Kolaborasi dan keberanian untuk berubah menjadi fondasi utama. HASI hadir sebagai wadah untuk mewujudkan hal tersebut,” kata Syarif.

Artikel Terkait