Jakarta, SAWIT INDONESIA – Walaupun banyak hambatan di Uni Eropa, Indonesia tetap menjadi eksportir utama produk sawit sepanjang 2025. Data Komisi Uni Eropa menunjukkan impor sawit dari Indonesia tetap lancar bahkan lebih tinggi dari negara lain.
Pada periode 2025/2026 (1 Juli 2025-3 Maret 2026), Indonesia tetap jadi pemasok nomor satu buat Uni Eropa dengan total kiriman mencapai 597.400 ton. Disusul Malaysia mencatat pengiriman sawit ke Uni Eropa sebesar 484.000 ton.
Secara total, Uni Eropa cuma mengimpor 1,9 juta ton minyak sawit dalam periode tersebut. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang hampir menyentuh 2 juta ton.
Selain Indonesia dan Malaysia, adapula negara lain yang mengirimkan produk sawit. Diantaranya Guatemala sebesar 283 ribu ton, Papua Nugini berjumlah 140 ribu ton, dan Honduras sebanyak 99 ribu ton.
Penurunan ekspor
Dalam tiga tahun terakhir, seluruh negara eksportir sawit ke Uni Eropa mengalami penurunan permintaan.
Pada 2023/2024, volume ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa masih 785 ribu ton lalu tergerus menjadi 646 ribu ton di periode 2024/2025.
Kondisi serupa dialami Malaysia. Volume ekspornya di periode 2023/2024 masih 609 ribu ton lalu semakin tertekan menjadi 467 ribu ton.
Guatemala juga menghadapi situasi sama. Jumlah ekspor produk sawitnya ke Eropa sebesar 406 ribu ton di periode 2023/2024 selanjutnya turun menjadi 268 ribu ton pada 2024/2025.
Sekitar 50% minyak sawit di UE digunakan untuk sektor makanan, kosmetik, dan farmasi.
GAPKI mencatat pangsa pasar Uni Eropa terus merosot. Jika sebelumnya menyumbang sekitar 20% dari total ekspor, pada tahun 2024 kontribusinya turun menjadi hanya sekitar 12% per tahun.














