Nanning, SAWIT INDONESIA – Delegasi Indonesia menyuarakan “Sawit Bersih” di China-ASEAN Expo (CAEXPO) ke-21 dan China-ASEAN Business and Investment Summit (CABIS), di Nanning International Convention and Exhibition Center (NICEC), Nanning, 24-28 September 2024. Di event tahunan ini, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) hadir di Paviliun City of Charm Hall B2.
Di boothnya, BPDPKS menampilkan produk-produk olahan dari sawit sebagai bagian mengkampanyekan sisi positif sawit kepada peserta pameran dan konferensi.
Dirjen Mardyana menyampaikan penghargaan kepada BPDPKS atas perannya dalam transformasi industri sawit. Dengan dukungan BPDPKS, industri kelapa sawit Indonesia telah mengalami transformasi signifikan, terutama dalam mendorong penerapan praktik-praktik berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Kehadiran industri sawit di CAEXPO-CABIS 2024 ini tidak hanya menargetkan peningkatan ekspor, tetapi juga mempromosikan “Sawit Bersih”. Maknanya, BPDPKS melakukan upaya keberlanjutan dan praktik yang bertanggung jawab di mata global. Yakni dengan menerapkan program-program inovatif, sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dan peningkatan produktivitas petani sawit.
“Inilah sebabnya mengapa Indonesia melalui BPDPKS terus berfokus pada implementasi sertifikasi keberlanjutan seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan,” jelas Mardyana.
Sebagaimana kita ketahui, sawit sebagai komoditas yang paling produktif, menyumbang kurang lebih 42% dari total supply minyak nabati dunia. Seiring dengan permintaannya yang terus meningkat dari tahun ke tahun, pertumbuhan demand minyak nabati dunia meningkat rata-rata sebesar 8,5juta MT setiap tahunnya.
Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia menargetkan dapat memproduksi lebih dari 50 juta ton Minyak Sawit pada tahun 2025. Hal ini akan memberikan lebih banyak pasokan untuk industri makanan, termasuk minyak goreng dan makanan berbasis minyak sawit, serta biodiesel untuk domestik dan ekspor untuk pasar global.
Di hari ketiga expo diisi acara “Indonesia Talkshow “ yang menghadirkan pembicara Miftah Farid (Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag), Aida Fitria (Kepala Divisi Kemasyarakatan dan Civil Society BPDPKS), dan Lolita Bangun (Wakil Sekjen GAPKI).
Kepala Divisi Lembaga Kemasyarakatan dan Civil Society BPDPKS Aida Fitria. menjelaskan bahwa penerapan Sustainable Certification System dapat memastikan bahwa minyak sawit Indonesia dihasilkan sesuai dengan prinsip keberlanjutan, dari hulu ke hilir. Sertifikasi ini mennjangkau berbagai aspek berkelanjutan sawit mulai dari pelestarian lingkungan, perlindungan terhadap keanekaragaman hayati, hingga kesejahteraan sosial bagi pekerja dan masyarakat sekitar perkebunan. Indonesia bahkan menjadi satu-satunya produsen minyak nabati (vegetable oil) yang memiliki sertifikasi keberlanjutan yang diakui secara global, menurut laporan USDA 2021.
“Dengan data produktivitas lahan terbaik dibandingkan minyak nabati yang lain, sawit berada di posisi terbaik untuk dapat memenuhi permintaan dunia yang semakin meningkat,” jelas Aida.
Sebagai informasi, Tiongkok menjadi pasar utama produk sawit Indonesia, dengan permintaan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam lima tahun terakhir, nilai ekspor minyak sawit Indonesia ke Tiongkok mencapai lebih dari USD7 miliar. Di 2023, ekspor minyak sawit ke Tiongkok tumbuh 12%, menunjukkan pentingnya negara tersebut sebagai mitra dagang strategis.
Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik Tiongkok, minyak sawit Indonesia juga digunakan dalam industri makanan, kosmetik, dan energi terbarukan di Tiongkok. Hubungan ekonomi yang erat antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya di sektor minyak sawit, semakin memperkuat posisi minyak sawit Indonesia di pasar internasional.














