Jakarta, SAWIT INDONESIA — Rencana implementasi program biodiesel B50 yang akan dimulai pada Juli 2026 diperkirakan akan mendorong peningkatan signifikan terhadap kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) di dalam negeri. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Eddy Martono, menyebutkan bahwa tambahan kebutuhan CPO akibat kebijakan ini mencapai jutaan ton per tahun.
“Kalau B50, tahun ini saja kira-kira penambahan itu 1,5 sampai 1,7 juta ton. Kalau satu tahun diimplementasikan kira-kira penambahannya sekitar 3 sampai dengan 3,5 juta ton,” ujar Eddy dalam wawancara dengan awak media usai peluncuran buku ‘45 GAPKI untuk Negeri’, pada Rabu (29 April 2026), di Jakarta.
Meski demikian, ia memastikan bahwa dari sisi produksi nasional, kebutuhan tersebut pada dasarnya masih dapat dipenuhi. “Kalau secara produksi cukup,” katanya. Namun, ia mengingatkan adanya potensi tantangan apabila terjadi lonjakan permintaan global.
“Kalau dengan kondisi stagnasi seperti ini, apabila terjadi peningkatan permintaan impor dari luar negeri, belum tentu bisa dipenuhi semua. Tapi tidak usah khawatir, kebutuhan dalam negeri itu menjadi prioritas utama dulu,” tegasnya.
Eddy menekankan bahwa kunci keberhasilan implementasi B50 terletak pada peningkatan produktivitas dan produksi sawit nasional. Hal tersebut menjadi syarat mutlak agar Indonesia dapat menjaga keberlanjutan program biodiesel sekaligus memenuhi kebutuhan pasar global.
“Apapun kita harus meningkatkan produktivitas, meningkatkan produksi. Itu tidak bisa ditawar agar kita bisa terus sustain di B50, bahkan kalau mau naik lagi kita bisa,” ujarnya.
Eddy memperkirakan, dengan kondisi yang ideal, produksi CPO Indonesia seharusnya dapat mencapai hingga 60 juta ton atau lebih. Namun, realisasi target tersebut saat ini masih terhambat oleh lambatnya program peremajaan sawit rakyat (PSR).
“Peremajaan sawit rakyat sangat lambat, sehingga menyebabkan produksi kita stagnan. Kenaikan kemarin itu karena faktor cuaca dan replanting dari perusahaan yang mulai panen,” jelasnya.
Untuk itu, GAPKI mendorong percepatan pelaksanaan PSR dengan mengatasi berbagai kendala di lapangan. Eddy menegaskan bahwa upaya ini penting agar Indonesia tidak tertinggal dalam memenuhi permintaan global yang terus meningkat.
“Kebutuhan meningkat terus, dunia ini butuh sawit. Nah itu harus kita imbangi dengan meningkatkan produksi dan produktivitas,” pungkasnya.














