Jakarta, SAWIT INDONESIA - Petani sawit swadaya merasakan berbabagi manfaat positif dalam mengikuti The SMallholder Inclusion for better Livelihood & Empowerment (SMILE) yang diluncurkan pada tahun 2020. Salah satunya mampu meningkatkan produktivitas tandan buah segar (TBS) petani hingga 10 persen dalam 2 tahun.
Sutoyo, petani sawit asal Indragiri Hulu, Provinsi Riau mengaku dirinya bersama rekan petani sawit lain telah mendapatkan bimbingan dan dukungan dalam perjalanan mereka menuju keberlanjutan.
“Awalnya teman-teman petani agak sulit dalam mengikuti pelatihan praktek sawit berkelanjutan ini. Setelah kami mengikuti prosesnya kurang lebih 2 tahun, alhamdulillah salah satu manfaatnya bisa meningkatkan produksi TBS sampai 10 persen,” ujar Sutoyo yang juga Ketua Umum Asosiasi Petani Sawit Swadaya Anugrah (APPSA) di Indragiri Hulu, dalam jumpa pers di Jakarta Pusat, Rabu (23/11/2023). Di APSSA, Sutoyo bertanggung jawab atas 238 anggota dengan total lahan budidaya lebih dari 571 hektar.
Sekadar informasi, SMALL merupakan kolaborasi antara Asian Agri, Apical dan dan Kao membantu petani swadaya dalam budidaya sawit berkelanjutan hingga memperoleh Sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Dalam program SMILE ini, sebanyak 628 petani telah memperoleh RSPO dan ditargetkan pada 2030 sebanyak 3.000 petani bisa mendapat sertifikat tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Ivan Novrizaldie, Sustainability Head Asian Agri mengungkapkan dalam program SMILE petani wajib mengimplementasi praktek-praktek berkelanjutan dan memang harus dilakukan dalam requairment RSPO.
“Artinya dapat mempengaruhi bagaimana sawit itu bisa tumbuh dan berkembang. Jadi harusnya ada peningkatana bukan penurunan,” ucapnya.
“Memang betul prosesnya panjang, 1-2 tahun baru kelihatan. Jadi tidak 1-2 minggu ini apply kelihatan. Jadi keuntungannya peningkatan produksi TBS, kedua, kalau kita mempraktekkan berkelanjutan pasti ada efisiensi cost. Jadi biaya biaya yang ada itu bisa ditekan. Karena dengan requarmen RSPO tadi, misalnya SDM yang biasanya 10 orang per ha bisa ditekan atau pupuk yang dipakai dengan petunjuk sertifikasi berkelanjutan mereka bisa tahu jumlah pemumpukan dengan dosis yang tepat,” tambah Ivan.
Selain keuntungan tadi, dia mengatakan manfaat yang terakhir tentunya petani dalam memperoleh harga premium.
Menurut Ivan yang membedakan program SMILE dengan program RSPO lainnya adalah konsistensi atau sustainability dari pembeli kredit.
“Banyak nih, dulu dibeli perusahaan A buyernya, dia struggling siapa lagi yang mau beli tahun depan. Makanya kredit itu tidak mudah,” ujar dia.
“Makanya kita kerja sama dengan Apical dan Kao. Dalam hal ini, Kao memang yang menjamin pembelian kreditnya baik itu CPO dan CPKO, jadi harus dikovenversi dulu dari TBS. Jadi petani tidak harus susah susah dulu cari pembeli yang sebenarnya menjadi tantangan saat ini,” tandasnya.
Penulis: Indra Gunawan














