SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) optimistis Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA) akan menjadi angin segar bagi industri minyak sawit nasional. Kesepakatan strategis ini memberikan fasilitas kuota ekspor sawit ke Uni Eropa dengan tarif bea masuk nol persen serta bebas bea keluar dan pungutan ekspor.
Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI, Fadhil Hasan, memaparkan bahwa kuota ekspor sawit Indonesia ke Eropa akan dimulai dari 1,9 juta ton pada tahun pertama dan meningkat secara konsisten sebesar 3 persen setiap tahunnya selama sembilan tahun.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum internasional GlobOil India 2026 di Mumbai, India (29 September–1 Oktober 2026), yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Poin-poin utama dinamika ekspor, kepatuhan regulasi, hingga ketahanan pasar global mencakup:
- Tantangan EUDR & Harmonisasi ISPO: Fadhil menekankan bahwa pemanfaatan kuota I-EU CEPA sangat bergantung pada kesiapan industri memenuhi European Union Deforestation Regulation (EUDR). Kunci utamanya terletak pada penguatan sistem ketertelusuran (traceability) kebun petani swadaya serta harmonisasi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dengan verifikasi Eropa.
- Dampak Mandat B50 & Tren Harga 2027: Fadhil memproyeksikan harga CPO pada 2027 tetap solid, menjadi momentum akselerasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Di sisi lain, Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengingatkan bahwa implementasi B50 nasional akan menyerap 15,2–16,3 juta ton CPO per tahun, yang berpotensi mengetatkan surplus pasokan ekspor di tengah dampak anomali iklim El Niño.
- Insentif Tarif & Kemitraan Pasar India: Selain Eropa, India tetap menjadi pasar utama. Ekspor CPO Indonesia ke India tumbuh 28 persen pada Triwulan I-2026 (mencapai 988 ribu ton). Daya saing makin kuat seiring keputusan Pemerintah India memangkas bea masuk dasar CPO dari 10 persen menjadi 5 persen per 24 September 2026.
GAPKI menegaskan bahwa sinergi penataan keberlanjutan hulu dan pemanfaatan insentif perdagangan internasional menjadi kunci utama untuk menjaga kepemimpinan Indonesia di pasar minyak nabati dunia.
Sumber: gapki.id














