Sidang digelar, toga dikenakan, palu diketukkan. Publik menonton, media melaporkan, dan semua merasa bahwa keadilan sedang bekerja. Padahal, sering kali yang bekerja hanyalah ritualnya, bukan substansinya. Hukum tampil megah seperti upacara kenegaraan, lengkap dengan simbol dan prosedur, tetapi kehilangan roh etisnya. Ia berjalan dengan khidmat, namun tanpa arah moral. Dalam keheningan ruang sidang, mungkin yang benar sudah kalah sebelum perkara dimulai.
Max Weber pernah mengatakan bahwa birokrasi modern beroperasi melalui rasionalitas prosedural (Weber, 1978). Artinya, selama prosedur dijalankan, sistem dianggap sah. Tetapi dalam praktik, legalitas prosedural sering menutupi ketidakadilan substantif. Yang penting bukan lagi ‘apakah adil’; melainkan ‘apakah sesuai prosedur’. Dan ketika prosedur menjadi segalanya, keadilan berubah menjadi tontonan administratif. Birokrasi pun menjelma mesin tanpa empati, yang bekerja sempurna tetapi tanpa makna.
Proses hukum yang disiarkan langsung di televisi dapat menimbulkan rasa puas kolektif: rakyat melihat pelaku ditangkap, disidang, dan dijatuhi hukuman. Tetapi kepuasan itu sering bersifat estetis, bukan etis. Keadilan dirayakan seperti drama; penegakan hukum menjadi teater moral yang menenangkan perasaan bersalah masyarakat, tanpa menyentuh akar persoalan ketimpangan. Seolah-olah hukum telah bekerja, padahal ia sekadar mempertahankan wibawa kekuasaan.
Begitulah, hukum kini tidak hanya dipatuhi, tetapi juga dipentaskan. Setiap vonis dan sidang besar menjadi bagian dari liturgi negara modern, di mana kekuasaan menegaskan eksistensinya melalui simbol-simbol legal. Rakyat diundang menjadi penonton, bukan partisipan.
Hannah Arendt mengingatkan bahwa kejahatan dapat muncul bukan karena kebengisan luar biasa, tetapi karena kepatuhan buta terhadap aturan (Arendt, 1963). Maka, hukum yang kehilangan refleksi etis dapat melahirkan kekejaman yang sangat tertib. Dan dalam ketertiban yang terlalu sempurna itu, kita sering lupa bahwa keadilan bukanlah seremonial, melainkan keberanian untuk melampaui prosedur demi kebenaran.
Mungkin sudah waktunya hukum berhenti berparade dengan toga dan palu. Karena semakin megah ritualnya, semakin besar kemungkinan bahwa keadilannya telah pergi.
(mBogor, 29012026)














