• Jumat, 25 September 2026
Kinerja

Hilirisasi Sawit Masih Menjanjikan

Para pelaku usaha industri hilir sawit mendukung pemerintah untuk mewujudkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dan percepatan swasembada pangan serta energi. Ada dua kunci dari sisi industri sawit dalam mendukung target pemerintahan Prabowo tersebut, pertama mengoptimalkan kerjasama internasional seperti BRICS dan mendorong investasi di sektor hilirisasi sawit.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat dalam acara buka puasa yang digelar di Jakarta, Rabu (12/3/2025). Narasumber lain adalah Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga dan Sekjen APROBI Ernest Gunawan yang dimoderatori Wakil Ketua Umum Forum Wartawan Pertanian Qayuum Amri.

“Pertama, kerjasama ekonomi bilateral Indonesia yang saat ini dengan 9-10 negara, tetapi produk sawit secara keseluruhan belum banyak dimanfaatkan dalam kerja sama bilateral ini. Karena ada beberapa insentif yang barang kali belum diketahui oleh dunia usaha di Indonesia,” ujarnya.

Rapolo juga menambahkan, resminya Indonesia menjadi anggota ke-10 BRICS pada 6 januari tahun ini merupakan peluang besar untuk sektor sawit. Apalagi, kata dia, negara-negara BRICS tidak ada satupun yang menerapkan hambatan dagang.

“Kalau dibandingkan penduduk dunia totalnya mencapai 8,1 miliar porsi 10 negara BRICS mencapai 3,9 miliar itu porsinya sekitar 48 persen terhadap populasi dunia. Ke-10 negara itu tidak ada yang menerapkan hambatan dagang terhadap produk sawit,” jelas Rapolo.

Dia pun berharap kerja sama pemerintah dengan BRICS ini menjadi kunci menarik investasi untuk sektor sawit dari 10 negara itu. Kemudian menjadi pasar utama dari produk sawit Indonesia.

“Dari sisi pendapatan per kapita rata-rata dunia itu US.400, dan rata-rata negara BRICS itu US.200-an. Jadi dari sisi ekonomi mendekati pendapatan dunia. Dari 10 itu ada dua yang melewati pendapatan per kapita rata-rata dunia yaitu UEA dan Rusia. Tiongkok itu masih US.000,” ujarnya.

Selanjutnya yang menjadi kunci untuk mencapai target swasembada dan ekonomi 8 persen yaitu dalam perluasan hilirisasi. Menurut Rapolo, Indonesia masih mengabaikan sawit untuk bernilai tambah tinggi seperti produk fitonutrien terutama beta karoten, tokoferol dan tokotrienol dan lain-lain.

Padahal, lanjut dia, pangsa pasar dari tiga jenis produk tadi dalam 3 tahun terakhir tembus US miliar. Dan tidak ada satupun perusahaan farmasi Indonesia menjadi produsen produk sawit bernilai tambah tinggi tersebut.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 161)

Artikel Terkait