• Kamis, 24 September 2026
Berita Terbaru

Hilirisasi Sawit Indonesia Kalah dari China, GAPKI Dukung Grand Desain Riset Sawit BRIN

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia masih tertinggal dari China untuk pengembangan hilirisasi sawit. Saat ini, jumlah produk turunan sawit yang mampu dikembangkan China sekitar 1000 jenis.

“Kalau Indonesia baru kembangkan 200 produk turunan sawit. Tetapi China mampu mengembangkan 1.000 jenis produk. Walaupun produsen sawit terbesar, tetapi kita (Indonesia) sangat tertinggal,” ujar Timbas Prasad Ginting, Ketua GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Sumatera Utara saat menjadi narasumber FGD bertemakan "Pemetaan Rantai Nilai, Hilirisasi, dan Arah Investasi Strategis Industri Kelapa Sawit Indonesia".

FGD ini diinisiasi oleh Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di BRIN Serpong, Kamis (3 September 2026).

Dalam presentasinya, Timbas mengatakan hilirisasi sawit di Indonesia telah bertransformasi pesat dari sekadar penghasil minyak mentah (Crude Palm Oil/CPO) menjadi industri pengolahan bernilai tinggi. Adapun tiga bidang hilirisasi yang telah berjalan; Pertama, sektor pangan yang meliputi minyak goreng, margarin, dan shortening.

Kedua, bidang non-pangan (oleokimia) antara lain Produk sabun, kosmetik, bahan farmasi, hingga pelumas. Ketiga, bidang energi terbarukan: Pengembangan biodiesel, biogas, dan bioavtur.

“Di bidang energi, sudah pernah dilakukan uji bensin sawit dari Bandung ke Sabang. ITB sudah mampu menghasilkan bensin sawit,” ujar Timbas.

Selain itu, menurut Timbas, industri sawit diakui sebagai industri zero waste (bebas limbah). Adapun hasil pengolahan seperti cangkang (shell), serat (fiber), tandan kosong (empty fruit bunch), dan limbah cair (liquid/POME) untuk pembangkit listrik, pupuk, pelet biomassa, hingga bio-CNG.

Timbas Ginting menjelaskan bahwa GAPKI mendukung inisiatif BRIN sebagai lembaga riset pemerintah untuk pengembangan riset inovasi hilirisasi sawit. Salah satunya melalui penyusunan grand desain riset sawit yang bersifat jangka panjang.

“Walaupun sudah ada program riset BPDP tetapi sifatnya text book dan belum menyentuh hilirisasi. Itu sebabnya, BRIN dapat bekerjasama dengan dunia industri agar hasil risetnya lebih aplikatif,” kata Timbas.

Menurutnya, BRIN perlu mengajak diskusi asosiasi yang berkaitan produk turunan sawit seperti APROBI, GIMNI, dan APOLIN. Karena GAPKI sebagai asosiasi sawit yang bergerak di sektor hulu perkebunan.

Berdasarkan data kinerja hingga Juni 2026, total produksi CPO dan PKO Indonesia mencapai 30,28 juta ton, meningkat 8,59% daripada periode yang sama tahun 2025 (27,89 juta ton).

Sektor konsumsi dalam negeri juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,48% (YoY) menjadi 12,94 juta ton.

Peningkatan ini dampak dari mandatori biodiesel yang menyerap 6,57 juta ton CPO, diikuti oleh kebutuhan pangan sebesar 5,29 juta ton, dan industri oleokimia sebesar 1,07 juta ton.

Di pasar internasional, ekspor produk olahan sawit (Processed Palm Oil) mendominasi dengan volume mencapai 11,76 juta ton hingga Juni 2026, jauh melampaui ekspor CPO mentah yang sebesar 1,34 juta ton.

Hal ini membuktikan bahwa program hilirisasi di dalam negeri berjalan secara efektif. Total nilai ekspor produk sawit Indonesia hingga pertengahan tahun 2026 mencapai USD 19,44 miliar (setara Rp334,6 triliun).

Artikel Terkait