• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Hilirisasi di Sektor Pertanian dan Pangan Perlu Dukungan Riset

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung upaya peningkatan perkembangan sektor industri lokal, salah satunya adalah sektor pertanian dan pangan. Dukungan tersebut diberikan dari aspek sains dan teknologi melalui hasil riset dan inovasi terbaru.

“Riset yang baik dapat dilakukan apabila ada keterlibatan berbagai pihak melalui kolaborasi global,” ungkap Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dalam 2nd International Conference on Food and Agricultural Sciences (ICFAS) 2023 pada Selasa (12/12).

Menurutnya proses hilirisasi di sektor pertanian dan pangan perlu dukungan riset. “Hilirisasi berarti memberikan nilai tambah sumber daya lokal kita, sedangkan hilirisasi dan nilai tambah perlu didukung riset yang baik,” jelas Handoko.

Untuk itu, ia mendorong periset bidang pertanian dan pangan untuk memperluas jejaring kolaborasi. “Mari kerja bersama dan BRIN siap memfasilitasi kolaborasi yang dilakukan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN Puji Lestari menyebut isu perubahan iklim sangat berdampak pada sektor pangan. “Saat ini kita menyaksikan meningkatnya dampak perubahan iklim terhadap sistem pangan global, karenanya perlu upaya kolektif dari komunitas ilmiah untuk membentuk solusi kolaboratif yang memperkuat ketahanan pangan di tengah ketidakpastian iklim,” paparnya.

Pendapat senada disampaikan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arif Prasetyo Adi. Menurutnya Indonesia dilewati garis ekuator dan beriklim tropis menjadikannya kaya biodiversitas namun rentan perubahan iklim. “Lebih dari 13% CDP ditopang oleh sektor pertanian, dan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim. Hal tersebut berdampak pula pada ketahanan pangan kita,” jelas Arif.

Ia menghimbau semua pihak untuk bergerak bersama dalam menghadapi perubahan iklim dengan memperkuat cadangan pangan di tingkat lokal dan nasional, meningkatkan sistem distribusi, stabilitas, pasokan, dan harga pangan.

Bahkan pihaknya telah menyediakan 19 infrastruktur rantai dingin di delapan provinsi untuk memperpanjang umur komoditas. “Bapanas memfasilitasi distribusi pangan dan mendorong kerja sama antar wilayah dengan mengoptimalkan toll laut dan kargo udara untuk mengurangi kesenjangan pangan dan pendistribusian makanan dari area yang berkelebihan pangan ke daerah defisit pangan,” paparnya.

Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI) turut mendukung kolaborasi untuk mewujudkan ketahanan pangan di tengah krisis perubahan iklim. “Isu ini penting untuk dikolaborasikan secara global untuk menciptakan rencana aksi, apalagi Indonesia memiliki potensi sebagai negara agraris dengan SDM besar yang mampu mendukung hal tersebut,” tutur Presiden KBI, Masturi.

Kebijakan Riset Pertanian dan Pangan

Sementara itu Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian memaparkan beberapa kebijakan riset yang dapat meningkatkan daya saing industri pertanian dan pangan. “Untuk meningkatkan kesuburan tanah perlu dilakukan riset analisis untuk memahami kandungan unsur hara dan pemetaan tanah secara digital, meneliti metode penerapan nutrisi yang optimal dengan mempertimbangkan kebutuhan tanaman dan dampak lingkungan, mempelajari metode pencegahan erosi dan efektivitasnya, serta eksplorasi sistem tanam adaptif iklim yang dapat meningkatkan kesuburan tanah,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya untuk meningkatkan pemanfaatan bibit unggul di bidang pertanian dapat dilakukan dengan memanfaatkan alat dan teknik genetika canggih dalam memahami keragaman genetik bibit unggul untuk meningkatkan sifat-sifatnya. Mengembangkan strategi pemuliaan inovatif untuk menciptakan varietas bibit unggul baru dengan sifat-sifat yang lebih baik seperti toleransi biotik dan abiotik. Serta kemajuan dalam teknik perawatan dan pengawetan benih.

“Riset untuk mendukung produksi daging dapat difokuskan pada sumber daya genetik dalam pembibitan sapi dengan memperhatikan varietas pakan hijau, teknologi reproduksi, teknologi pakan, teknologi kesehatan ternak, model pengembangan integrasi sapi-sawit dan peternakan berbasis bioindustri,” papar Amarulla.

Untuk dapat mewujudkan kebijakan riset tersebut BRIN perlu melibatkan kolaborasi antara peneliti, ahli agronomi, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan bidang pertanian. “Integrasikan metodologi penelitian mutakhir, termasuk analisis genetik, teknik pemuliaan, dan kemajuan teknologi benih,” tambahnya.

Konsorsium Riset Beras Sehat dan Tangguh Iklim

Barry Pogson dari Australian National University (ANU) menjelaskan pengembangan beras sehat dan tangguh iklim dengan teknologi gen editing atau genome editing yaitu membuat perubahan yang sangat spesifik pada rangkaian DNA organisme hidup. Ini sebagai konsorsium antara ANU, BRIN, UGM, dan IRRI. Kolaborasi tersebut bertujuan untuk mengasah keahlian dalam mengembangkan beras sehat tahan kekeringan dengan mengenalkan teknologi genetika tradisional dan modern.

“Beras merupakan bahan pangan pokok di seluruh Asia, bahkan sebagai bahan pangan penting di dunia. Ini menjadi peluang untuk mengembangkannya menjadi lebih sehat dan lebih tangguh kekeringan,” kata Barry.

Riset beras di ANU menurutnya sejauh ini telah menghasilkan lebih dari 1000 beras transgenik dengan 85 konstruksi gen berbeda. Sedangkan beras sehat tersebut mengandung vitamin A, zat besi (Fe) dan Zn. “Beras Emas merupakan GMO yang menghasilkan beta karoten yang dibelah untuk membuat Vitamin A. Saat ini sedang dilakukan peningkatan skala dan ditanam lebih banyak lagi agar dapat dipanen setiap saat,” ujarnya optimis.

ICFAS 2023 ini diikuti oleh 300 peserta dan presenter dari USA, Polandia, Italia, Australia, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, India, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia dari kalangan peneliti, akademisi, industri, dan mahasiswa.

“Diskusi yang dilakukan semoga dapat menginspirasi kita untuk meningkatkan inovasi dan teknologi lebih lanjut guna mewujudkan ketahanan pangan di dunia dan siap menghadapi perubahan iklim,” pungkas Ketua penyelenggara ICFAS 2023, Satriyo Krido Wahono.

Sumber: brin.go.id

Artikel Terkait