• Sabtu, 19 September 2026
Sajian Utama

Henny Hendarjanti Perempuan Pertama Peraih 4th Sawit Indonesia Award 2025 Bidang Riset Pengendalian Ganoderma

Henny Hendarjanti menerima penghargaan 4th Sawit Indonesia Award 2025 untuk komitmennya dalam pengendalian ganoderma. Sangat aktif dalam berbagai pertemuan dan forum diskusi yang membahas upaya mencegah penyebaran Ganoderma di perkebunan sawit

“Saya merasa senang dalam ajang penghargaan bergengsi ini. Kami sangat bersyukur atas penghargaan yang diberikan dalam ajang Sawit Indonesia Award 2025 untuk kategori Komitmen Riset Inovasi Pengendalian Ganoderma ini,” ujar Henny Hendarjanti.

Penghargaan ini diserahkan oleh Direktur Marketing Majalah Sawit Indonesia, Yasin Permana kepada Henny Hendarjanti pada 16 Desember 2025.”Kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Qayuum Amri dan tim Majalah Sawit Indonesia atas penghargaan ini. Penghargaan ini bukan hanya sekadar trofi. Tetapi menjadi bukti kerja keras dan dedikasi dengan tim yang luar biasa di belakangnya,” kata Henny.

“Saya juga ingin berterima kasih kepada Jurusan Proteksi Tanaman,Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret dan Pascal Biotech atas dukungan tanpa henti, penghargaan ini milik kita bersama. Semangat dan kolaborasi adalah kunci kesuksesan ini. Penghargaan ini bagi saya merupakan momentum yang selalu mengingatkan bahwa kelapa sawit Indonesia benar-benar sedang menghadapi ancaman serius dari patogen cendawan Ganoderma sp,” tambah Henny.

Henny mengatakan ganoderma sangat berbahaya karena menjadi penyebab penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang berdampak penurunan produktivitas dan menjadi ancaman bagi kematian tanaman sehingga menyebabkan kerugian yang signifikan, dan akan mengancam keberlanjutan industri sawit nasional. Kejadian ini dialami baik oleh pekebun besar dan terutama di lahan petani rakyat.

Perempuan yang berkarir 27 tahun lamanya di PT Astra Agro Lestari Tbk ini mengatakan bahwa pendekatan mitigasi Ganoderma yang dilakukan saat ini pada umumnya masih bersifat preventif, yaitu melakukan pencegahan dengan sanitasi lahan pada areal endemik Ganoderma dengan eradikasi sumber inokulum ganoderma, inipun signifikan dilakukan jika kondisi serangan masih Ringan (dengan intensitas serangan BPB < 10%). Tetapi jika intensitas serangan BPB > 10% maka sudah menjadi tidak layak dilakukan karena biaya yang tinggi.

Berkaitan penggunaan kecambah kelapa sawit yang bersifat moderat toleran Ganoderma (MTG) dan atau moderate resistan Ganoderma (MRG), maka diperlukan pemilihan varietas bibit sawit yang tahan atau toleran terhadap cendawan Ganoderma untuk mencegah penyakit busuk pangkal batang yang mematikan.

Selanjutnya, aplikasi mikroba antagonis seperti Trichoderma sp, Gliocladium sp, Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA), Streptomyces sp. Hendersonia sp., Bhurkolderia sp.dll pada saat di pembibitan, keberhasilannya juga dipengaruhi oleh banyak faktor seperti: a)faktor lingkungan, b) interaksi inang-patogen,c) formulasi dan metode aplikasi, d) adanya kompetisi dengan mikroorganisme lain.

“Selama bertahun-tahun inokulum Ganoderma berada dalam rhizosfer tanah dan akan siap menginfeksi kelapa sawit terus menerus. Jika ini tidak dicegah maka siklus infeksi menjadi berkelanjutan: cendawan patogen Ganoderma akan terus menghasilkan inokulum baru, yang akan memperburuk masalah di seluruh perkebunan dan mempersulit upaya pengendalian. Terpikir oleh saya bagaimana bisa melemahkan kemampuan patogen untuk menyebabkan penyakit BPB yang parah. Artinya bagaimana kita bisa mitigasi secara kuratif?

Henny mengatakan upaya mitigasi secara kuratif dilakukan dengan penggunaan potensi mikovirus sebagai biocontrol. Mikovirus relatif jarang diteliti di Indonesia dibandingkan dengan agens biocontrol lainnya. Banyak tantangan yang dihadapi peneliti di Indonesia umumnya mencakup keterbatasan infrastruktur laboratorium canggih, kurangnya ahli taksonomi virus spesifik, dan kesulitan dalam isolasi serta karakterisasi virus yang sangat spesifik dari inang cendawan patogennya.

Ketua Pelaksana 4th Sawit Indonesia Award 2025, Qayuum Amri mengatakan penghargaan yang diberikan Henny Hendarjanti telah melalui penilaian mencakup tiga indicator yaitu komunikasi, dedikasi, dan keberlanjutan. Ketiga aspek ini telah dilakukannya sehingga membantu industri sawit Indonesia untuk pencegahan meluasnya Ganoderma.

“Harapan kami semoga Bu Henny tetap semangat dan terus berkontribusi bagi dunia proteksi tanaman khususnya pengendalian Ganoderma,” pungkas Qayuum.

Artikel Terkait