JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Hampir 1,5 jam lamanya Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, H.E Vincent Piket dengan pengurus DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) berlangsung interaktif dan konstruktif. Kedua belah pihak ingin memperjelas isu yang selama ini berkembang terkait hubungan dagang kelapa sawit antara Indonesia dan Uni Eropa.
"Ucapan terima kasih kepada Bapak Moeldoko (RED- Kepala Kantor Staf Kepresidenan RI) yang memfasilitasi pertemuan dengan APKASINDO.Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari dialog sebelumnya dengan Pak Moeldoko," ujar Vincent Piket mengawali pembicaraan.
Ia menegaskan dialog konstruktif ini sangat dibutuhkan untuk menghindari misinformasi dari kedua belah pihak berkaitan kelapa sawit. Tujuanya mencari titik temu sehingga terjalin kerjasama yang baik.
"Ada informasi yang cenderung dikembangkan pihak tertentu (terkait posisi Uni Eropa terhadap sawit). Kami ingin mendengar langsung dari APKASINDO sebagai organisasi petani sawit di Indonesia, " urainya.
Vincent Piket menuturkan Uni Eropa berkeinginan tetap membangun dialog yang baik dan saling membangun. Sebab, Uni Eropa tetap membutuhkan kelapa sawit.
"Penggunaan kelapa sawit sangat besar di Eropa. Banyak industri pengolahan di Eropa tergantung dan menggunakan sawit. APKASINDO pasti tahu soal ini. Dan kami ingin membangun kerjasama dengan Apkasindo dan kami senang bisa bertemu langsung, " jelasnya.
Dr. Gulat ME Manurung, Ketua Umum DPP APKASINDO, menyambut baik keinginan Duta Besar Uni Eropa untuk mendapatkan informasi secara langsung dari perspektif petani. Di Indonesia, perkebunan petani mencapai 6,8 juta ha yang menguasai 42 % dari total luasan kebun kelapa sawit seluas 16,3 juta ha.
"Uni Eropa bukanlah pembeli CPO Indonesia yang terbesar. Tetapi kebijakannya sangat berdampak terhadap kelapa sawit secara menyeluruh terutama bagi petani. Usulan kami Uni Eropa dan negara-negara lainnya dapat menjadi mitra petani dalam perjalanan kami menuju keberlanjutan, kami ingin jalinan langsung" jelasnya.
Gulat mengusulkan kolaborasi bersama antara Uni Eropa dengan APKASINDO melalui tindakan konkrit dan tidak hanya mendengar cerita secara sepihak, kamilah Petani nya bukan "mereka". Perlu dilakukan perjanjian pengakuan untuk standar keberlanjutan bersama, mempromosikan penelitian ilmiah dan studi bersama, pemberdayaan petani kecil, pembangunan industry pengolahan hilir serta beasiswa untuk anak-anak petani.
"Kami juga mengundang Duta Besar Uni Eropa untuk datang ke perkebunan kelapa sawit rakyat di provinsi Riau. Mari kita melihat aktivitas petani merawat kebunnya. Apa saja dampak sawit bagi perekonomian, sosial, bagaimana petani menjaga kelestarian lingkungan dan tentu saja menikmati wisata kebudayaan dan makanan Melayu," ujar Gulat.
Setelah mendengar permintaan ini, Duta Besar Vincent Piket langsung menyanggupinya, diiringi senyum terimakasih. Ia menjelaskan bahwa pihaknya segera mengunjungi Riau. Dengan Agenda bertemu Gubernur Riau H. Syamsuar, Kadin Riau dan stakeholder lainnya.
"Minggu depan, kami akan berkunjung ke Riau. Apabila (APKASINDO) ada rekomendasi perkebunan sawit rakyat yang dapat dikunjungi, silakan beritahu kami," kata Piket menyanggupi.














