• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Harmoni Keberagaman di Perkebunan PTPN

Pekanbaru, SAWIT INDONESIA - Industri perkebunan kerap dipandang sebagai lingkungan kerja yang keras, monoton, dan minim ruang interaksi sosial. Gambaran tersebut sering melekat pada aktivitas panen, target produksi, hingga hamparan kebun yang luas membentang. Namun di balik ritme kerja yang padat, tersimpan kehidupan sosial yang hangat dan penuh warna.

Di tengah kesibukan operasional, nilai keberagaman tumbuh secara alami melalui perjumpaan sehari-hari para pekerja. Interaksi yang terjalin bukan sekadar hubungan profesional, melainkan berkembang menjadi relasi yang sarat empati. Dari sanalah harmoni terbentuk tanpa perlu banyak seremoni.

Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi salah satu momen yang memperlihatkan wajah keberagaman tersebut. Bukan lewat pesta besar atau dekorasi meriah, tetapi melalui sikap saling menghargai yang sudah menjadi kebiasaan. Nilai toleransi hadir dalam bentuk sederhana namun konsisten.

Kisah itu tergambar dari pengalaman Akiong, petugas panen di Afdeling III Kebun Lubuk Dalam, PTPN IV Regional III, Riau. Sebagai satu-satunya karyawan keturunan Tionghoa di lingkungan kerjanya, ia justru merasakan penerimaan yang tulus. Lingkungan dengan latar belakang mayoritas berbeda tak membuatnya merasa terasing.

“Saya bangga bisa bekerja di sini. Walaupun saya satu-satunya etnis Tionghoa di Kebun Lubuk Dalam, saya tidak pernah merasa diperlakukan berbeda. Sejak awal bergabung, rekan-rekan menerima saya apa adanya,” ujarnya.

Menurutnya, toleransi di kebun bukan sekadar wacana. Ia hadir melalui tindakan kecil yang saling menjaga perasaan. Saat Ramadan tiba, ia berupaya menghormati rekan-rekannya yang berpuasa, sementara pada hari raya, silaturahmi berlangsung tanpa sekat.

“Kami saling menjaga perasaan. Itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa perlu diatur,” ucapnya.

Rutinitas kerja di kebun juga membawa perubahan dalam kehidupannya. Aktivitas fisik yang intens dan kerja tim yang solid membuat kondisi tubuhnya terasa lebih bugar. Ia mengaku kini jarang mengalami gangguan kesehatan.

“Sekarang saya jarang sakit. Saya merasa pekerjaan ini justru membuat tubuh saya lebih kuat,” tuturnya sambil tersenyum.

Cerita lain datang dari Tony Lie, Asisten Tata Usaha di Kebun Kemitraan Tanah Putih, Rokan Hilir, Riau. Karyawan keturunan Tionghoa yang memeluk Islam ini menilai identitas etnis dan keyakinan tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan selaras dalam kehidupan profesional.

“Saya Muslim dan saya Tionghoa. Itu bukan hal yang aneh. Saya menjalankan puasa, beribadah, dan tetap diterima sebagai bagian dari tim. Tidak ada jarak,” ujarnya.

Ia melihat isu toleransi kerap muncul dari asumsi luar, bukan dari realitas di lapangan. Dalam keseharian, yang lebih terasa adalah solidaritas sebagai sesama pekerja. Tanggung jawab bersama menjadi perekat utama.

“Pada akhirnya, semua kembali kepada tanggung jawab. Pekerjaan harus selesai, administrasi harus rapi. Perbedaan tidak mengurangi solidaritas,” ujarnya.

Bagi Tony, profesionalisme, kejujuran, dan ketelitian adalah prinsip utama dalam bekerja. Setiap tugas memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Nilai tersebut ia pegang tanpa memandang latar belakang siapa pun. Di kebun, suasana Imlek memang tidak semeriah pusat kota. Namun kehangatan tetap terasa lewat hal sederhana, seperti berbagi kue keranjang di kantor. Gestur kecil itu menjadi simbol kebersamaan yang tulus.

Bagi para pekerja, kebun bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Di sanalah sebagian besar waktu dihabiskan dan relasi perlahan berubah menjadi rasa kekeluargaan. Dalam ruang itulah keberagaman menemukan bentuknya yang paling nyata. Pergantian tahun pun membawa harapan akan kesehatan, kestabilan hidup, serta masa depan keluarga yang lebih baik. Ada pula doa agar perusahaan terus bertumbuh sehingga roda kehidupan tetap bergerak. Ketergantungan pada keberlangsungan usaha menjadi kesadaran bersama.

Potret ini menunjukkan bahwa harmoni tidak selalu lahir dari program besar atau slogan resmi. Ia bertumbuh dari interaksi manusia yang saling memahami dan menghargai. Di tengah kerja keras dan kesederhanaan, keberagaman justru menemukan ruangnya.

Sumber: kabarbumn.com

Artikel Terkait