PEKANBARU, SAWIT INDONESIA - Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Riau mengalami koreksi yang cukup dalam pada periode Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat NTP Riau anjlok 4,64 persen ke level 188,20, dari posisi September 2026 yang sempat menyentuh angka 197,35.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh efek ganda (double squeeze), yakni turunnya indeks harga yang diterima petani di saat indeks harga yang harus dibayar untuk kebutuhan hidup maupun produksi justru merangkak naik.
"Pada Oktober 2026, NTP Provinsi Riau tercatat sebesar 188,20 atau turun 4,64 persen dibandingkan September 2026 sebesar 197,35," ungkap Asep Riyadi dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).
Penurunan NTP Riau ini menjadi yang paling signifikan di antara 10 provinsi yang ada di Pulau Sumatera selama bulan Oktober 2026.
Poin-poin utama rincian pergerakan indeks harga, dinamika komparasi regional Sumatera, serta kinerja NTUP Riau meliputi:
Rincian Pergerakan Indeks Harga dan Inflasi Rumah Tangga Petani:
- Indeks Harga yang Diterima Petani (It): Merosot sebesar 3,97 persen.
- Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib): Justru mengalami kenaikan sebesar 0,71 persen.
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT): Mengalami kenaikan sebesar 0,94 persen, utamanya dipicu oleh lonjakan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 1,63 persen.
- Kenaikan tipis juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan/restoran serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar (masing-masing naik 0,12%), serta sektor transportasi (naik 0,07%).
Peta Perbandingan NTP Antarprovinsi di Pulau Sumatera:
- Dari 10 provinsi di Sumatera, sebanyak enam provinsi mencatatkan peningkatan NTP, dipimpin oleh Sumatera Selatan (+5,24%), Lampung (+1,91%), dan Kepulauan Riau (+1,19%).
- Sementara itu, empat provinsi mengalami koreksi. Riau mencatatkan penurunan terdalam sebesar 4,64 persen, disusul Jambi (-1,08%) dan Aceh (-0,24%).
Penurunan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP):
- Tidak hanya NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Riau juga terkikis menjadi 185,02 atau turun 4,07 persen dibandingkan September 2026 yang sebesar 192,87.
- Penurunan NTUP dipengaruhi oleh kombinasi jatuhnya harga komoditas hasil tani (It turun 3,97%) dan berlanjutnya kenaikan Biaya Penambahan Barang Modal dan Biaya Produksi (BPPBM) yang naik 0,11 persen.
Kondisi penurunan NTP dan NTUP ini mengindikasikan semakin tebalnya tekanan finansial yang dihadapi para petani di Riau akibat menyusutnya margin pendapatan di tengah tingginya beban operasional usaha tani dan biaya hidup sehari-hari.















