• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Guru Besar USU: Sawit, Kunci Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana

Medan, SAWIT INDONESIA – Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Sumatra Utara (USU) Prof. Dr. Diana Chalil menilai budidaya kelapa sawit di lahan yang sesuai dapat menjadi motor pemulihan ekonomi pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menurutnya, dibanding komoditas lain, sawit memberi efek pengganda (multiplier effect) yang lebih besar secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

“Manfaat lingkungan tidak selalu berhadapan dengan manfaat ekonomi. Kita belajar dari pascatsunami Aceh 2004, petani memilih sawit karena lebih menguntungkan. Banyak kebun rakyat beralih dari komoditas lain ke sawit,” kata Diana dalam Diskusi Ilmiah Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU, Selasa (10 Februari 2026).

Diana yang juga peneliti Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSPO) mengatakan industri sawit berperan besar dalam menopang ekonomi, baik di tingkat nasional maupun di daerah yang terdampak bencana akhir tahun lalu. Karena itu, ia menyebut sawit sebagai opsi paling efektif untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.

Ia mencatat sektor pertanian menyumbang 73,83 persen devisa nasional, dengan ekspor minyak sawit sebagai kontributor terbesar.

“Subsektor pertanian yang memberi devisa terbesar adalah ekspor minyak sawit,” ujarnya dalam diskusi bertema Perubahan Iklim Global sebagai Pemicu Bencana di Sumatra.

Di tingkat regional, Diana menyebut sawit menjadi penyumbang devisa ekspor terbesar dari Aceh. Sementara di Sumatra Utara, komoditas ini menempati posisi ketiga terbesar.

Dari sisi ketenagakerjaan, industri sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja secara nasional pada 2024, baik langsung maupun tidak langsung. Angka itu belum termasuk pekerja di sektor hulu, hilir, dan jasa pendukung agribisnis.

Riset Tunjukkan Pendapatan Petani Naik

Penelitian Diana bersama tim CSPO juga menunjukkan kenaikan pendapatan masyarakat setelah beralih ke budidaya sawit. Di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, misalnya, rata-rata pendapatan warga naik dari Rp31,8 juta per tahun menjadi Rp42,1 juta.

“Sawit berperan penting bagi perekonomian Indonesia dan berpotensi mempercepat pemulihan ekonomi Sumut dan Aceh. Karena itu, pengelolaannya harus baik agar hasilnya konsisten,” katanya.

Diana menegaskan kebun sawit bukan penyebab bencana yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Namun, ia meminta pemerintah dan pelaku usaha memperbaiki tata kelola perkebunan secara berkelanjutan agar tetap memberi manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan.

“Bukan hanya soal luas lahan, tapi lokasinya. Bukan hanya produksi, tapi juga keseimbangan lanskap dan nilai jual,” ujarnya.

Industri Sawit Sulit Digantikan

Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto menambahkan perekonomian wilayah terdampak bencana, seperti Aceh dan Sumatra Utara, masih sangat bergantung pada industri sawit. Karena itu, sektor ini sulit ditinggalkan.

Menurutnya, pelaku usaha harus memperhatikan kesesuaian lahan dan aspek ekofisiologis agar perkebunan tetap berkembang tanpa merusak lingkungan.

“Kalau aspek ekofisiologis dijaga, sawit bisa tumbuh bersama ekosistem yang berkelanjutan,” kata Kacuk.

Ia menambahkan, perkebunan sawit telah hadir di Sumatra Utara lebih dari satu abad dan selama itu lingkungan relatif terjaga. Namun, perubahan iklim kini menjadi tantangan baru.

“Bagaimana kita tetap mendapat manfaat ekonomi, tapi risiko ekologisnya bisa kita minimalkan,” ujarnya.

Artikel Terkait