• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Gunakan Isu BUMN Ekspor, Apkasindo Riau: Spekulan Mainkan Harga TBS Sawit Petani

Riau, SAWIT INDONESIA – Gelombang penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kembali memukul para petani swadaya di Provinsi Riau. Hanya dalam kurun waktu tiga hari, rata-rata harga TBS di tingkat petani merosot tajam antara Rp600 hingga Rp800 per kilogram. Kondisi paling parah terjadi di tingkat agen (tengkulak)—tempat mayoritas petani kecil menjual hasil panennya—dengan penurunan harga menembus Rp860 per kilogram.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Riau, KH. Suher mengatakan terdapat indikasi kuat permainan spekulan dan pihak pabrik kelapa sawit yang memanfaatkan momentum isu kebijakan BUMN Ekspor.

"Kami yakin kebijakan BUMN Ekspor tersebut sebenarnya bertujuan baik untuk tata kelola industri. Namun, di lapangan, isu ini justru digoreng dan dimanfaatkan oleh spekulan serta pihak pabrik untuk menekan harga di tingkat petani," ujar KH. Suher saat memberikan keterangan.

KH. Suher menambahkan, "Di Bengkalis, harga TBS sawit di tingkat pabrik sebesar Rp3.260/kg pada 20 Mei. Lalu memasuki 22 Mei, terjadi penurunan menjadi Rp2.660/kg, di tingkat agen, harganya lebih anjlok lagi dari Rp3.100/kg menjadi Rp2.300/kg, ini terjadi diseluruh Riau".

Anjloknya harga kali ini dinilai sangat ironis. Tommy Sihombing selaku Ketua DPD APKASINDO Kabupaten Rokan Hilir Riau menambahkan, kejatuhan harga juga melanda TBS yang berasal dari kebun program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR)—kebun yang ditanam perdana langsung oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo menggunakan bibit bersertifikat dan berkualitas unggul, sehingga sangat menguntungkan para spekulan.

"Buah sawit di Rokan Hilir yang berasal dari kebun PSR yang ditanam Presiden RI ke-7 awalnya senilai Rp3.570/kg pada 20 Mei, lalu turun menjadi Rp3.270/kg pada 21 Mei, dan terus anjlok menjadi Rp2.970/kg pada 22 Mei hanya dalam waktu 3 hari", kata Tommy.

Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL selaku Sekretaris APKASINDO Riau mengatakan, "khusus di Riau, total lahan yang dimiliki petani seluas 2,4 juta hektare. Angka ini jauh lebih luas dibandingkan total lahan milik BUMN dan swasta yang hanya mencapai 1,6 juta hektare. Ada jutaan masyarakat Riau yang hidupnya bergantung penuh pada komoditas sawit ini. Kami mohon perlindungan nyata dari pemerintah agar nasib petani tidak terus dipermainkan".

Djono menambahkan, bayangkan jika rata-rata dalam 1 hektar lahan petani memanen 1 ton TBS, dengan turunnya harga Rp. 850, berarti petani rugi Rp850.000, yang mana ini senilai 7kg beras atau 88kg pupuk urea, ini mungkin dinilai kecil oleh sebagian orang dan, tapi ini sumber penghidupan petani, apalagi jika kita kalikan dengan luas lahan yang dimiliki petani di Riau seluas 2.4jt hektar, maka kerugian yang terjadi adalah 2 Triliun hanya dalam 3 hari, dan ini baru di Riau saja, ambruknya harga TBS terjadi diseluruh Indonesia, ini harus menjadi perhatian penting bagi pemerintah pusat dan daerah" tegas Djono.

Artikel Terkait