• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

GPPI: Inovasi Kunci Jawab Tantangan Global Perkebunan Indonesia

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) kembali menggelar agenda tahunan Evaluasi Tahunan Ilmiah Kinerja Agribisnis Perkebunan (ETIKAP) 2025 pada Rabu, 11 Juni 2025 di Hotel Manhattan, Jakarta. Acara ini mengangkat tema Diseminasi Inovasi dan Teknologi Petani Sawit, Kelapa, dan Kakao, dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan sektor perkebunan.

Ketua Umum GPPI, Dr. Ir. Delima Hasri Azahari, MS, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi yang terjalin bersama Badan Pengeola Dana Perkebunan (BPDP), Periset Perkebunan Nusantara (PPN), serta berbagai mitra sejak awal penyelenggaraan ETIKAP. Ia menegaskan bahwa sektor perkebunan tak hanya berperan dalam menyumbang devisa dan menyerap tenaga kerja, tetapi juga berkontribusi terhadap keberlanjutan pembangunan nasional.

“Kita patut bersyukur, ini adalah tahun ke-6 penyelenggaraan ETIKAP. Perkebunan berperan besar dalam ekspor, dan produk kita pertama kali masuk ke Amerika Serikat melalui Pelabuhan Manhattan. Semoga ETIKAP terus memberi manfaat bagi kita semua,” ujarnya.

Dalam sesi seminar, GPPI juga menyoroti dampak kebijakan luar negeri, khususnya kebijakan Presiden AS Donald Trump, terhadap kinerja ekspor komoditas perkebunan Indonesia. Isu ini menjadi sorotan mengingat Amerika Serikat adalah salah satu negara tujuan utama ekspor produk kelapa, kakao, dan sawit Indonesia.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Haris Darmawan, yang hadir mewakili Menteri Pertanian Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa peraturan terkait pengembangan komoditas perkebunan masih dalam tahap penyusunan. Ia mengapresiasi konsistensi GPPI dalam memajukan sektor perkebunan nasional.

“Kita tidak bisa abaikan kontribusi sektor perkebunan terhadap pembangunan daerah dan ekonomi nasional. Komoditas utama seperti sawit, kelapa, dan kakao menyumbang miliaran dolar ekspor dan menciptakan lapangan kerja. Namun tantangan tetap ada, seperti stagnasi lahan di angka 16,83 juta hektare, serta produktivitas sawit yang masih rendah, hanya 3,8 ton per hektare dari potensi 5 ton,” pungkas Haris.

Artikel Terkait