• Senin, 28 September 2026
Berita Terbaru

Gapki: Sawit Berulang Kali Jadi Penopang Ekonomi Nasional

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, menegaskan bahwa perkebunan kelapa sawit memiliki kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Sayangnya, hal itu belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat yang masih terpengaruh kampanye negatif terhadap komoditas ini.

Eddy mencontohkan, industri sawit telah beberapa kali menjadi penyelamat perekonomian Indonesia di masa krisis. Pada 1998, ketika kenaikan pajak menekan ekonomi nasional, sawit hadir sebagai penopang. Kondisi serupa terjadi pada 2008 saat krisis finansial global melanda, dan kembali terbukti pada 2019 ketika pandemi Covid-19 mengguncang Indonesia.

“Saat ekonomi jatuh, sektor perkebunan sawit justru menjadi penyelamat. Bahkan ketika Covid-19, sawit mencatatkan devisa tertinggi bagi negara. Ini pencapaian luar biasa,” ujar Eddy dalam acara Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 di Pekanbaru, Riau, Senin (1/9/2025).

Meski demikian, Eddy mengaku prihatin karena pengelolaan sawit di Indonesia masih terfragmentasi. Ia menyebut ada 37 kementerian dan lembaga (K/L) yang terlibat dalam pengelolaan perkebunan sawit, namun hasilnya masih kalah dibanding Malaysia. “Malaysia hanya punya satu lembaga, tapi produksinya lebih besar,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, peran petani juga mendapat sorotan. Ketua Dewan Pengawas Aspekpir (Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR), Rusman Heriawan, menekankan pentingnya kemitraan antara petani plasma dan perusahaan dalam mendorong kemajuan sawit nasional.

Ia menjelaskan, Aspekpir saat ini menaungi sekitar 800.000 hektare dari total 16 juta hektare perkebunan sawit di Indonesia. Melalui forum ini, ditampilkan pula berbagai inovasi budidaya dan teknologi pasca-panen yang lebih ramah lingkungan.

“Ini bentuk komitmen kita agar pengembangan sawit tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan,” tutur Rusman.

Artikel Terkait