• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

GAPKI Sambut Positif Workshop Huawei dan Majalah Sawit Indonesia, Berkaitan Masa Depan Energi di Perkebunan

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyambut positif penyelenggaraan Workshop 2026 Future Energy for Sustainable Plantation yang digelar Huawei dan Majalah Sawit Indonesia di Jakarta, Kamis (7 Mei 2026). Forum tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan industri sawit yang menghadapi tantangan transformasi energi dan tuntutan keberlanjutan.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan industri sawit membutuhkan ruang diskusi yang mampu mempertemukan pelaku usaha dengan penyedia teknologi guna mencari solusi energi yang lebih efisien dan rendah emisi.

“Sebagai Ketua Umum GAPKI, kami menyambut baik inisiatif penyelenggaraan workshop ini. Kami memandang forum seperti ini sangat penting untuk memperkuat kesiapan industri dalam menghadapi transformasi energi ke depan,” ujar Eddy saat memberikan sambutan.

Menurut Eddy, industri kelapa sawit sebenarnya sudah cukup lama memanfaatkan energi terbarukan melalui biomassa dan biogas yang dihasilkan pabrik kelapa sawit (PKS). Pemanfaatan serat dan cangkang sawit sebagai bahan bakar boiler untuk pembangkit listrik, kata dia, telah menjadi praktik umum di sejumlah perusahaan.

Selain itu, pemanfaatan teknologi methane capture juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi energi sekaligus menekan emisi gas rumah kaca. Teknologi tersebut memungkinkan limbah cair sawit diolah menjadi biogas yang dapat digunakan untuk menghasilkan listrik tambahan.

“Energi yang dihasilkan dari PKS, baik dari biomassa maupun biogas, memiliki intensitas emisi yang lebih rendah dibandingkan listrik berbasis fosil, khususnya pembangkit berbahan bakar batu bara yang masih dominan dalam sistem kelistrikan nasional,” katanya.

Ia menilai kondisi itu menjadi keunggulan tersendiri bagi industri sawit nasional di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap praktik usaha berkelanjutan dan rendah karbon.

Namun demikian, Eddy mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan energi di kawasan perkebunan sawit, terutama terkait regulasi pemanfaatan surplus listrik. Menurutnya, persoalan perizinan, tarif listrik, hingga aspek fiskal masih menjadi perhatian pelaku usaha.

Dalam forum tersebut, Eddy juga menyinggung pentingnya pengembangan sistem mikrogrid yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing perkebunan. Sebab, kebutuhan energi kebun yang terintegrasi dengan PKS berbeda dengan kebun yang tidak memiliki fasilitas pengolahan sendiri.

Dari Kiri-Kanan: Qayuum Amri (Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia), Hendra Yap (Director of C&I Microgrid Digital Power PT Huawei Tech Investment), Eddy Martono (Ketua Umum GAPKI), Bin Lei (Director of Smart PV Business Dept PT Huawei Tech Investment).

Karena itu, GAPKI memandang kolaborasi antara industri dan perusahaan teknologi seperti Huawei sangat penting untuk mendorong lahirnya solusi yang lebih aplikatif bagi sektor perkebunan.

“Ke depan, energi akan menjadi salah satu faktor kunci dalam daya saing industri kelapa sawit. Bukan hanya dari sisi biaya, tetapi juga dari sisi keberlanjutan dan jejak karbon,” tandas Eddy.

Artikel Terkait