• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

GAPKI: Pentingnya Menyadari Bisnis Sawit Ramah Anak untuk Keberlanjutan

Jakarta, SAWIT INDONESIA –Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) terus gencarkan kampanye sawit ramah anak di daerah sentra-sentra sawit, dengan dukungan dari BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan).

Kali ini, gerakan sawit Indonesia ramah anak (SIRA) dihadirkan rangkaian kegiatan seminar dan workshop dengan mengusung tema ‘Membangun Aceh Bersama Sawit Ramah Anak’, yang diadakan selama dua hari (27 – 28 Agustus 2025), di Banda Aceh. Melibatkan peserta 120 orang terdiri dari berbagai pihak mulai dari perusahan, petani, NGO, Serikat Buruh dan pemerintah. Tujuanya untuk mempromosikan praktik baik SIRA.

Pada kegiatan tersebut juga ditampilkan buku panduan SIRA sebagai rujukan yang dipublikasikan oleh GAPKI tahun 2021.

Inisiatif dan cara ini mendapat apresiasi dan dukungan dari pemerintah provinsi Aceh melalui kehadiran dan sambutan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Meutia Juliana. Bahkan di akhir acara ditandatangani deklarasi dan komitmen aksi bersama (Pemprov Aceh, GAPKI dan PAACLA) mewujudkan sawit Aceh ramah anak dan diperluas kesektor usaha lainnya.

Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) – GAPKI, Sumarjono Saragih, menjelaskan melalui acara ini, diharapkan semua pihak menyadari dan memahami pentingnya bisnis yang ramah anak. Dan itu bisa.

“Sudah dibuktikan dan contohnya dapat dilihat di perkebunan sawit. Jadi tidak berlebihan bila sawit punya peran yang nyata dan maha penting mempersiapkan generasi Aceh. Oleh karena itu kita harapkan pemerintah Aceh menjadi penopang. Tidak turut menggoyang sawit. Jejak Aceh sebagai rumah leluhur sawit harus bagian narasi baru. Bahkan waktunya secara kolaboratif, pemerintah Aceh secara cerdik mengoptimalkan keberadaan industri sawit. Sawit ramah anak sebagai modal dan akselerator mempersiapkan Anak Aceh Emas 2045,” jelasnya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitindonesia.com, pada Kamis (28 Agustus 2025).

Aceh tidak saja menyumbang pesawat Seulawoh dalam awal kemerdekaan Indonesia.Namun, yang tak boleh dilupakan, bahwa provinsi di ujung bagian barat Sumatera, yaitu Aceh adalah rumah leluhur industri sawit. Kini, telah membawa Indonesia menjadi juara produksi minyak sawit dunia.

Lebih lanjut, Sumarjono mengungkapkan saat itu pengusaha Eropa yang dibawa kolonial, memulai membuka perkebunan sawit secara komersil pada 1911 di Sei Liput, Kabupaten Aceh Tamiang – Provinsi Aceh.

“Hingga akhirnya, pemerintah (Indonesia) dan stakeholders sawit kemudian sepakat menetapkan tanggal 18 November sebagai Hari Sawit Nasional. Artinya, jejak sawit di Aceh sudah berumur 114 tahun. Selama itu pula sawit mengiringi perjalanan Aceh dari heroik, konflik dan kini damai dan menatap kemajuan dan kesejahteraan,” ungkapnya.

Tetapi, lanjut Sumarjono, laju ekspansi sawit di Aceh memang kalah dari provinsi lain. Tercatat sawit Aceh ada 500 ribu hektar.

“Bandingkan dengan provinsi lain di Kalimantan yang berkembang belakangan. Disebutkan lebih 1.9 juta hektar kebun sawit di provinsi Kalimantan Tengah. Ketimpangan ini tidak terlepas akibat konflik panjang Aceh. Konflik membuat investasi tidak bertumbuh. Pada hal tanah Aceh yang subur pasti memberi produktivitas sawit yang lebih tinggi dari daerah lain,” tambahnya menjelaskan.

Sepert idiketahui, melihat perkebunan sawit di Aceh tentu tidak hanya dari sisi ekonomi dan bisnis saja. Melainkan sawit di provinsi tersebut juga bisa menjadi mitra pemerintah dalam mempersiapkan anak dan generasi untuk menyambut Aceh Emas 2045.

“Industri sawit mempunyai praktik baik dan menjadi bagian integral dalam proses bisnis sawit berkelanjutan. Desain perkebunan sawit menjamin, melindungi dan menghormati hak anak. Tuduhan sawit mempekerjakan anak tidak benar dan sangat merugikan sawit. Namun, sebaliknya sawit Indonesia ramah anak (SIRA),” ungkap Bang Jon, sapaan akrab Sumarjono Saragih.

Lalu, seperti apa praktik sawit Indonesia ramah anak? Ada banyak bukti yang menjadi alasan. Perkebunan sawit hanya mempekerjakan dengan usia minimun 18 tahun. Untuk pendidikan, ada perusahaan membangun sekolah di tengah kebun. Jika sekolah sudah ada di sekitar kebun, perusahaan membantu peningkatan fisik dan non fisiknya.

Selain itu, fasilitas lain juga disediakan seperti fasilitas kesehatan. Tersedia klinik bahkan ada yang membangun rumah sakit, Bus Sekolah, Rumah perlindungan pekerja perempuan dan anak bahkan disediakan. Bahkan, ada juga perusahaan yang menyediakan rumah pengasuhan anak (day care) dengan tempat bermainaman dan nyaman.

Artikel Terkait