Jakarta, SAWIT INDONESIA - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengingatkan bahwa kampanye negatif dan misinformasi tentang industri sawit dapat berdampak serius terhadap keberlanjutan sektor strategis tersebut. Peringatan ini ia sampaikan dalam Seminar Nasional bertema “Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan” di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta, Kamis (22 Januari 2026).
Eddy menegaskan, peran sawit dalam ekonomi nasional terbilang fundamental. Saat ini, sawit berkontribusi sebagai penyumbang devisa terbesar kedua di sektor nonmigas, sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Sawit menyumbang devisa sangat besar dan melibatkan tenaga kerja langsung sekitar 5 juta orang, serta total 16,5 juta orang dalam rantai industrinya. Ini luar biasa. Saya khawatir kalau sawit terus dihujat, kampanye negatif itu lama-lama bisa dianggap sebagai kebenaran,” ujar Eddy yang dipantau secara daring.
Eddy mencatat, pada masa pandemi COVID-19 industri sawit tetap menjadi penopang ekonomi nasional dengan devisa mencapai US miliar, bahkan tanpa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Meski kinerja ekspor sempat menurun pada 2024 seiring kenaikan harga minyak nabati global, ia menilai kebijakan mandatori biodiesel berperan besar dalam menjaga kestabilan harga tandan buah segar (TBS).
“Pada 2008 harga sawit pernah lebih rendah dari biaya produksi. Petani sampai membakar TBS karena tidak laku. Mandatori biodiesel membuat pasar domestik menjadi buffer. Tapi keseimbangan ini harus dijaga,” tutur Eddy.
Menurutnya, peningkatan bauran biodiesel harus memperhatikan ketersediaan pasokan. Jika produksi stagnan sementara konsumsi naik, skema ekspor berpotensi ditekan sehingga mengganggu keseimbangan pasar.
Eddy juga menyinggung pentingnya literasi sawit bagi generasi muda. Ia mencontohkan perbedaan harga minyak nabati di pasar.
“Indonesia produsen sawit terbesar sekaligus konsumen terbesar. Kemarin saya lihat minyak soybean di mal, harganya tiga hingga lima kali lipat minyak sawit. Bayangkan kalau kita tidak punya sawit,” imbuhnya.
Produksi Sawit Alami Stagnasi
Di sisi produksi, Eddy mengakui industri sawit tengah menghadapi stagnasi. Karena perluasan lahan (ekstensifikasi) menjadi opsi terbatas, GAPKI mendorong peningkatan produktivitas (intensifikasi).
Salah satu upaya yang dilakukan yakni mendatangkan serangga penyerbuk dari Tanzania karena penyerbuk lokal dianggap kurang agresif.
Meski demikian, tantangan terbesar berada pada perkebunan rakyat yang menguasai sekitar 41% areal sawit nasional.
“Produktivitas sawit rakyat masih rendah. Masalahnya mereka menunda replanting karena alasan ekonomi. Mereka butuh jaminan hidup selama masa tunggu kebun. Sekarang sudah mulai terbantu BPDP, tapi realisasinya belum optimal,” ujar Eddy.
Ia menyebut sebagian lahan rakyat juga terkendala status kawasan hutan meskipun pemilik sudah memiliki sertifikat sejak puluhan tahun lalu.
Eddy mengingatkan potensi risiko strategis jika pasokan sawit Indonesia terganggu, termasuk dari sisi geopolitik. Menurutnya, beberapa negara mulai menyiapkan kebun sawit sebagai diversifikasi pasokan.
“Ada negara yang khawatir jika suplai sawit Indonesia terganggu. Mereka mulai menanam sawit. Kita harus waspada, karena ketika mereka berhasil, dampaknya bisa besar bagi kita,” katanya.
Pada penutup, Eddy menekankan bahwa industri ini tidak boleh hilang dari lanskap ekonomi Indonesia.
“Ke depan industri sawit tidak boleh hilang. Saya khawatir kalau tidak kita jaga, tahun 2045 sawit bisa hilang dari Indonesia,” tutupnya.














