Jakarta, SAWIT INDONESIA - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, bertemu dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk membahas perkembangan produksi sawit nasional serta berbagai tantangan yang masih dihadapi industri kelapa sawit Indonesia.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (11/3), tersebut juga membahas upaya peningkatan produktivitas sawit guna mendukung kebutuhan dalam negeri dan menjaga kinerja ekspor.
Eddy Martono menjelaskan bahwa produksi kelapa sawit Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan peningkatan. Produksi Crude Palm Oil (CPO) diperkirakan mencapai sekitar 51 juta ton, sementara jika ditambah produksi Palm Kernel Oil (PKO), total produksi minyak sawit nasional mencapai sekitar 56 juta ton.
Menurutnya, peningkatan produksi tersebut tidak terlepas dari hasil program peremajaan perkebunan sawit yang telah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan sawit dalam beberapa tahun terakhir.
“Saya sampaikan bahwa kenaikan produksi ini terjadi karena hasil dari program replanting perusahaan yang mulai memasuki masa produksi,” kata Eddy usai pertemuan.
Program PSR Dinilai Masih StagnanMeski produksi sawit meningkat, Eddy menilai potensi produksi nasional sebenarnya masih bisa jauh lebih tinggi apabila program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) berjalan optimal.
Namun saat ini, pelaksanaan program PSR dinilai masih cenderung stagnan.
Menurutnya, salah satu kendala utama bukan hanya soal administrasi atau perizinan, tetapi juga faktor ekonomi petani yang masih bergantung pada hasil panen dari tanaman sawit yang ada.
“Seharusnya produksi kita bisa jauh lebih tinggi apabila peremajaan sawit rakyat berjalan dengan baik. Namun saat ini praktis bisa dikatakan program PSR masih stagnan,” ujarnya.
Ia mencontohkan, dengan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang mencapai sekitar Rp3.000 per kilogram, banyak petani enggan menebang tanaman sawit yang masih produktif.
“Dengan harga TBS sekitar Rp3.000, petani tentu tidak mau menebang tanamannya karena mereka berpikir akan kehilangan sumber penghasilan,” jelasnya.
Karena itu, GAPKI mengusulkan adanya skema jaminan penghidupan bagi petani selama masa peremajaan, misalnya melalui dukungan pendapatan sementara atau pengembangan tanaman tumpangsari.
Upaya Peningkatan Produktivitas SawitSelain membahas PSR, GAPKI juga melaporkan perkembangan program peningkatan produktivitas sawit melalui introduksi serangga penyerbuk dan sumber daya genetik kelapa sawit dari Afrika.
Serangga penyerbuk dan material genetik tersebut berasal dari Tanzania, sementara pengembangan sumber daya genetik tambahan saat ini sedang diproses dari Zambia.
Eddy menyebut program tersebut berpotensi menjadi langkah penting dalam meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
“Kami berharap Menteri yang secara langsung melepas program ini karena sangat monumental. Program ini berpotensi meningkatkan produktivitas sawit,” ujarnya.
Ekspor Sawit Tetap Berjalan di Tengah Dinamika GlobalDalam kesempatan itu, GAPKI juga melaporkan kondisi ekspor sawit Indonesia yang masih berjalan di tengah dinamika ekonomi global.
Namun, Eddy mengakui bahwa konflik global telah menyebabkan kenaikan signifikan pada biaya logistik dan asuransi pengiriman.
“Dengan kondisi global seperti sekarang, kita bersyukur ekspor sawit masih berjalan,” katanya.
Ia memperkirakan biaya transportasi dan asuransi pengiriman meningkat hingga sekitar 50 persen, yang berdampak pada menurunnya permintaan di beberapa pasar.
“Dengan kenaikan biaya tersebut, memang terjadi sedikit penurunan permintaan karena biaya menjadi lebih tinggi,” jelasnya.
Produksi Sawit Penting untuk BiodieselEddy menegaskan bahwa peningkatan produksi sawit tetap menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekspor dan kebutuhan dalam negeri.
Hal ini terutama terkait dengan program biodiesel nasional, yang menjadi bagian dari upaya pemerintah menuju kemandirian energi.
Menurutnya, program biodiesel saat ini tidak menggunakan dana APBN, melainkan didanai melalui pungutan ekspor sawit.
Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan sawit dinilai menjadi strategi penting agar pasokan tetap mencukupi, baik untuk kebutuhan energi domestik maupun pasar ekspor.
Sumber: gapki.go.id














