• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

GAPKI Kaltim Bersama BPDPKS Bahas PSR dan Pelaksanaan FPKM

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kaltim membahas penerapan pola tumpang sari padi gogo dalam program Peremajaan Sawit Rakyat sebagai bagian mendukung ketahanan pangan dan pemenuhan Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat (FPKM).

Pembahasan ini dilakukan dalam seminar bertemakan “Implementasi PSR Integrasi Padi Gogo sebagai Upaya Mendukung Ketahanan Pangan dan Pemenuhan Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat (FPKM)” di Hotel Gran Senyiur Balikpapan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada 26-27 April 2024.

Ketua GAPKI Kaltim Periode 2019 – 2024, H.Muhammadsjah Djafar dalam sambutannya mengatakan dalam rangka pelaksanaan Seminar Nasional yang bertema “Implementasi PSR Integrasi Padi Gogo sebagai Upaya Mendukung Ketahanan Pangan dan Pemenuhan Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat (FPKM)”, terdapat dua sub temaya itu mendukung ketahanan pangan dan FPKM atau fasilitasi pembangunan kebun masyarakat. Di Kementerian Pertanian, khususnya di Direktorat Jenderal Perkebunan sudah dikenal istilah KESATRIA, ada juga istilah SISKA. Agar suatu program cepat mudah dihapal dan dikenal, nampaknya perlu dibuat akronim yang punya nilai jual, istilahnya marketable.

“Kalau Kesatria itu (mohon dikoreksi kalau kami keliru, Pak Dirjenbun): Kelapa Sawit Tumpang Sari Tanaman Pangan, artinya di lahan kelapa sawit ditanami tanaman pangan, misalnya padi jenis gogo atau tanaman semusim lainnya. Tentu hal ini hanya bisa dipraktikan pada kebun sawit yang masih belum menghasilkan atau TBM. Hasil padi gogo inilah yang dimaksudkan dapat menambah produksi pangan di suatu wilayah, sehingga sektor sawit turut mendukung ketahanan pangan,” jelasnya.

“Kalau istilah SISKA, itu banyak dijumpai di provinsi tetangga kita, di KALSEL, yaitu Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit. Setelah Idul Fitriti dak lama berselangakan tiba Idul Adha, atau hari raya qurban. Momen tersebut merupakan saat yang ditunggu para pekebun SISKA menjual sapi-sapinya. Mudah mudahan di Kaltim nanti banyak pekebun sawit yang berminat untuk mengembangkan SISKA,” tambahnya.

Dikatakan Muhammadsjah Djafar bahwa peran sektor kelapa sawit dalam mendukung ketahanan pangan dan upaya percepatan FPKM akan kita bahas dan bicarakan pada sore hari ini. Para pembicara/narasumber yang sangat pakar di bidangnya perlu kita dengar dan simak dengan baik. Apa lagi hadir pula para pembahas yang kritis namun konstruktif untuk mendalami bahasan tersebut.

“Mudah-mudahan kita semua, terkhusus para pekebun mitra perusahaan anggota GAPKI dapat memperoleh tambahan pengetahuan dan wawasan terkait dua sub tema tersebut. Diharapkan selanjutnya dapat menerapkannya di lahan mereka yang memenuhi persyaratan untuk Program KESATRIA,” paparnya.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan, saat ini pihaknya fokus pada peremajaan sawit rakyat (PSR). Hal itu sesuai dengan arahan dari Kementerian Pertanian agar PSR masuk dalam program kerja Gapki.

“Kami mendukung seluruh anggota Gapki termasuk di Kaltim untuk mengimplementasikan program ini. Untuk itu kami juga menggelar seminar bertemakan PSR agar bisa dipahami para anggota Gapki,” jelasnya.

Ia menyampaikan, program PSR padi gogo ini baru pihaknya lakukan. Peluncuran telah dilakukan di Kalimantan Selatan belum lama ini. Diharapkan bisa dilakukan di seluruh Indonesia.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Eisi150)

Artikel Terkait