• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

GAPKI Dorong Praktik K3 Bagian untuk Sawit Berkelanjutan

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Industri sawit adalah sektor strategis nasional. Saat ini, industri sawit nasional memberikan peran yang sangat penting terutama dalam penerimaan devisa negara.

Tahun 2025, devisa yang kita dapatkan dari sawit mencapai lebih dari US$ 35,8 miliar atau Rp590 triliun, meningkat 34 persen dari tahun 2024 yang senilai US$ 27,8 miliar atau Rp439 triliun. Penerimaan devisa ini menjadikan neraca perdagangan RI tetap positif.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, saat menghadiri acara Refleksi 3 Tahun JAGA SAWITAN di Jakarta, pada Jum’at (13 Maret 2026).

Lebih lanjut, Eddy mengungkapkan selain berperan besar bagi penerimaan devisa, industri sawit juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja, dan pembangunan wilayah.

"Namun kontribusi besar itu hanya akan bertahan jika industri ini dikelola secara produktif, berdaya saing, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Salah satu kuncinya adalah ketenagakerjaan yang dikelola dengan baik dan penerapan K3 yang kuat," ungkapnya.

"Kita tidak bisa bicara sawit berkelanjutan tanpa bicara perlindungan pekerja. Kita juga tidak bisa bicara daya saing tanpa produktivitas. Dan kita tidak akan mencapai keduanya tanpa dialog sosial yang jujur, terbuka, dan konsisten. Di tengah tantangan industri hari ini termasuk stagnasi produktivitas dan meningkatnya kebutuhan dalam negeri maka peningkatan kualitas hubungan industrial dan produktivitas pekerja menjadi suatu keharusan, bukan pilihan," tambah Eddy.

Untuk itu, pihaknya memandang JAGA SAWITAN sebagai forum yang penting dan strategis. Forum ini bukan sekadar ruang diskusi, tetapi wadah untuk membangun solusi bersama antara pengusaha, pekerja, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan.

"3 Tahun sudah Jaga Sawitan berdiri, sejak dideklarasikan pada tanggal 16 Februari 2023. Banyak hal yang telah kita kerjakan. Berbagai pelatihan, advokasi dan lainnya. Banyak tantangan dan pekerjaan rumah yang masih terus harus kita hadapi dalam rangka perbaikan perbaikan kondisi kerja di industri kelapa sawit," kata Eddy.

Tiga tahun perjalanan JAGA SAWITAN menunjukkan bahwa kolaborasi itu perlu diteruskan. Tantangan masih banyak. Pekerjaan rumah masih besar. Karena itu, momentum refleksi hari ini harus melahirkan langkah yang lebih konkret: memperkuat K3, memperbaiki kondisi kerja, menghormati hak-hak pekerja, serta membangun industri sawit yang semakin kredibel di mata nasional maupun global.

Lalu, apa saja yang telah dilakukan GAPKI? Selama ini, GAPKI terus berkomitmen mendorong perbaikan ketenagakerjaan di sektor sawit melalui kemitraan, pelatihan, advokasi, dan penguatan dialog sosial di berbagai tingkatan.

"Kami percaya, hubungan kerja yang harmonis akan memperkuat industri sawit nasional. Sebaliknya, tanpa kolaborasi, kita hanya akan memperpanjang daftar masalah. GAPKI terus melakukan perbaikan perbaikan dan berkomitmen mempromosikan kerja layak di perkebunan kelapa sawit," ungkap Eddy.

Selama beberapa tahun terakhir, GAPKI aktif bekerja sama dengan ILO dan JAPBUSI membentuk Jaga Sawitan. GAPKI juga bermitra dengan institusi seperti CNV Internasioanal, Earthworm Foundation, PAACLA, Solidaridad, berbagai institusi pemerintah seperti Kemnaker, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Kementan, BPJS Ketenagakerjaan dan instansi lainnya dalam memperbaiki kondisi ketenagakerjaan dalam perkebunan kelapa sawit melalui berbagai kegiatan.

"Dalam momentum 3 tahun Jaga Sawitan, Saya juga ingin menegaskan bahwa GAPKI berkomitmen untuk terus mendorong agar K3 menjadi bagian yang semakin kuat dalam agenda sawit berkelanjutan Indonesia. Industri yang kuat bukan industri yang hanya besar secara produksi, tetapi juga industri yang mampu melindungi manusianya, menjaga keberlanjutan usahanya, dan mendapatkan kepercayaan publik," pungkas Eddy.

Artikel Terkait