Jakarta, SAWIT INDONESIA - Dalam mewujudkan Papua Emas 2045, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengambil inisiatif bersama perusahaan anggota di Papua mempromosikan sawit ramah anak. Bukan hanya di tengah perkebunan sawit. Tapi juga merangkul pemerintah, organisasi masyarakat dan keagaamaan secara bersama mempromosikan perlindungan anak.
Upaya tersebut diwujudkan melalui seminar dan workshop Promosi Sawit Ramah Anak dengan tema besar "Papua Emas 2045 Bersama Sawit", yang diadakan pada Rabu - Kamis, (5-6 Juni 2024), di Jayapura.
"Melalui kegiatan itu, GAPKI mendorong gerakan perlindungan anak. Dimulai dari kebun sawit, perdesaan sawit hingga masyarakat luas. Jadi Sawit Indonesia Ramah Anak (SIRA) untuk Papua Emas 2045," kata Sumarjono Saragih, Ketua GAPKI Bidang Pengembangan SDM, GAPKI melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitIndonesia.com, pada Jum'at (7 Juni 2024).
Dijelaskan Sumarjono, anak dilindungi, hak anak dihormati dan dipenuhi. Tidak mempekerjakan apalagi mengeksploitasi anak. Bahkan menyediakan tempat asuh anak yang aman dan nyaman.Memastikan anak mendapat pendidikan. Tersedia akses fasilitas kesehatan.
"Ini adalah model praktik baik di perkebunan sawit. Kita berharap semangat yang sama juga dilakukan di tengah masyarakat. Dengan cara demikian kita akan menghasilkan generasi emas 2045 di Papua dan Indonesia," jelasnya.
Sejarah panjang sawit sejak dari Sumatera, sarat praktik baik yang membawa transformasi sosial di perdesaan. Praktik baik ini akan berkontribusi untuk percepatan kemajuan tanah Papua.
Sawit hadir di Papua tidak hanya tentang perkebunan. Ada misi dan manfaat sosial yang dibawa tapi jarang dihitung. Manfaat sosial tersebut bisa menjadi modal dan dilipatgandakan melalui gerakan bersama.
Lebih lanjut, Sumarjono mengatakan kehadiran sawit di Papua relatif baru. Sayangnya sarat penolakan padahal banyak sisi positif yang dilupakan. Adalah realita, khususnya AOP (asli orang papua) memerlukan perhatian khusus.
"Terbukti dari berbagai program dan otonomi khusus dari pemerintah. Tentu itu tidak cukup. Perlu dukungan dan partisipasi banyak pihak. Termasuk perkebunan sawit," katanya.
Terlepas dari ragam kontroversi, faktanya sawit hadir di perdesaan, membawa sarat dampak baik. Menciptakan peluang ekonomi baru masyarakat sebagai pekerja dan petani plasma. Sawit membawa sistem kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan, kesehatan dan tatanan sosial lain tentang anak dan perempuan.
Ditambahkan Sumarjono praktik baik sawit ramah anak salah satu cara mempersiapkan generasi emas 2045. Berpacu dalam sisa 20 tahun memerlukan upaya bersama dan konkrit.
"Tanpa itu, bagaimana mewujudkan Papua Emas 2045? Oleh karena itu sawit di perdesaan menjadi penting. Mungkin sawit justru menjadi motor dan kunci bila ada racikan kebijakan tepat dan bersama," pungkasnya.














