• Senin, 5 Oktober 2026
Berita Terbaru

GAPKI Berkolaborasi Gelar Kegiatan 'Ceria Bersama Anak Kebun Sawit' di Kebun Sambut Generasi Emas

Jakarta, SAWIT INDONESIA – GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) terus berupaya menghalau ragam pemberitaan yang kerap dengan tudingan negatif ke industri sawit. Salah satunya melalui kegiatan 'Ceria Bersama Anak Kebun Sawit', yang digelar dengan kolaborasi berbagai pihak antara lain Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), NGO Anak, Pemerintah Kabupaten, dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Kegiatan ini diselenggarakan langsung di perusahaan perkebunan PT AMP Plantation (Wilmar Group) yang berlokasi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Ketua Bidang Pengembangan SDM GAPKI sekaligus Chairman Founder WISPO (Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil), Sumarjono Saragih, menyampaikan kegiatan 'Ceria Bersama Anak Kebun Sawit' merupakan puncak dari peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (HDMPA) yang diadakan langsung di perkebunan oleh GAPKI, dengan melibatkan berbagai pihak.

"Pesertanya mayoritas anak karyawan perkebunan yang bersekolah di sekolah milik pemerintah yang sudah dibantu oleh perusahaan. Mereka anak anak yang beruntung. Terlihat dari keceriaan dan talenta yang ditampilkan dalam acara," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitindonesia.com, pada Kamis (26 Juni 2025).

"Pada pelaksanaannya, mereka (peserta) menikmati, hak seorang anak yang dilindungi dan dihormati perusahaan dan orang di sekitarnya. Tidak ada pekerja anak yang terlibat di perkebunan sebagaimana banyak dituduhkan. Hal ini sekaligus untuk menjawab tudingan negatif yang kerap ditujukan ke sektor sawit," imbuh Sumarjono.

Selanjutnya, ia mempertanyakan dengan berbagai upaya dan kontribusi dari sektor sawit (pertumbuhan ekonomi daerah dan devisa negara), masih layak kah sektor sawit syarat persepsi negatif? Ragam pemberitaan seolah wajah sawit serba buram. Benarkah sawit layak dipuji hanya karena kontribusi ekonomi dan devisa semata? Dan selebihnya serba buruk dan layak dihukum? Kadang kita lebih 'mengingat hal negatif'. Sementara, ada segudang potensi sawit yang bisa jadi modal penting menyiapkan generasi emas 2025, yakni tentang anak dengan ragam dimensinya.

"Atau hanya perlu ditata dan digandeng sehingga memberi dampak dan kontribusi lebih optimal? Bukankah industri sawit kita bagai raksasa yang menyimpan daya dorong mega?," jelas Sumarjono.

Sektor sawit perhatikan aspek kesehatan dan pendidikan

Sejarah dan desain perkebunan yang diwariskan rejim kolonial punya dua sisi. Sisi plus dan minus. Di luar sisi minus seperti budaya feodalisme, budaya perkebunan (sawit) sangat layak kita syukuri. Ada budaya yang sejak dulu memperhatikan aspek kesehatan dan pendidikan.

Menurut Sumarjono, ada jejak nyata bahwa pengusaha perkebunan rezim kolonial memberi perhatian lebih ke aspek kesehatan. Ada catatan dan bukti sejarah. Salah satu rumah sakit besar dan moderen di jaman itu adalah milik perusahaan perkebunan. Di Medan ada RS Putri Hijau dibangun oleh perusahaan perkebunan tembakau Deli Maatshcappij pada tahun 1885. Kemudian tahun 1950 diserahkan ke TNI AD.

"Sistem dan budaya itu terus berlanjut dengan segala upaya perbaikan dan penyesuaian. Tak heran jika mau ditelusuri mudah menemukan klinik dan fasilitas kesehatan yang standar dan sangat layak di tengah perkebunan perkebunan sawit. Memiliki dokter, bidan dan para medis yang selama 24 jam siaga melayani pekerja dan keluarganya," ungkapnya.

Hal yang sama di pendidikan dan pengasuhan. Pekerja bisa menitipkan pengasuhan anak di rumah asuh anak TPA atau day care. Fasilitas pendidikan sebagai kebutuhan dasar anak karyawan, disediakan dalam ragam bentuk. Ada bus sekolah. Merenovasi dan meningkatkan kualitas sekolah milik pemerintah yang ada di sekitar perkebunan. Bahkan bila tak tersedia cukup dan layak, perusahaan membangun sekolah di tengah areal kebun. Mulai dari TK hingga SMA. Untuk anak pekerja semua gratis tanpa dipungut biaya. Anak warga sekitar perkebunan juga dapat diterima bila masih ada tempat dengan syarat tertentu," imbuh Sumarjono, yang karib disapa Bang Jon.

Maka, tidak berlebihan bahwa sektor sawit adalah mitra pemerintah yang setia membangun dan menjangkau dari perdesaan.

"Bahkan, atas inisiatif dan konsistensinya, GAPKI diganjar penghargaan khusus PAACLA AWARD 2025, pada 16 Juni 2025 di Jakarta, bertepatan dengan peringatan HDMPA atau World Day Againts Child Labour," ucap Bang Jon.

"Dengan segala keterbatasan pemerintah, kehadiran sistem dan budaya perkebunan sawit yang ramah anak akan menjadi penopang impian Indonesia Emas 2045. Industri sawit menyiapkan anak yang sehat dengan pendidikan yang layak. Mereka akan menjadi generasi emas. Menjaga dan terus membawa kemajuan negeri. Tak berlebihan sawit sumber generasi emas 2045," pungkasnya dalam keterangan tertulis.

Artikel Terkait