Simalungun, SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memberikan penghormatan tertinggi kepada peneliti dan tokoh sawit yang berperan penting dalam introduksi serangga pertama di Indonesia pada 1982. Peranan keempat peneliti ini sangatlah penting dalam perjalanan industri sawit nasional terutama peningkatan produksi melalui polinasi serangga penyerbuk.
“Kami menganugerahkan Lifetime Achievement kepada empat peneliti yang berperan penting bagi introduksi pertama serangga penyerbuk pertama di Indonesia. Mereka adalah pahlawan di balik perkembangan penting industri sawit nasional,” ujar Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono saat memberikan sambutan dalam pelepasan serangga penyerbuk kelapa sawit dari Tanzania di Kebun PPKS Marihat, Sumatera Utara, Kamis (9 April 2026).
Keempat tokoh peneliti yang menerima penghargaan adalah Dr. Adlin U. Lubis, Desmier de Chenon, Alimin Sipayung, dan Dr. Sudharto Ps.Penghargaan untuk Dr. Adlin Lubis diwakili oleh anaknya Dr. Edwin Lubis yang menjabat SEVP Produksi PT RPN (Riset Perkebunan Nusantara).
Dr. Edwin Lubis mengapresiasi penghargaan yang diberikan kepada ayahnya yang saat ini berusia 86 tahun.”Salam dari ayah kami Dr. Adlin Lubis kepada Bapak/ibu mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu sekalian atas penghargaan dari GAPKI ini. Pesan beliau, tetap semangat dan terus berinovasi bagi industri sawit yang baik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Desmier de Chenon, pakar entomologi, merasa sangat senang kembali ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebagai seorang peneliti.”Memori saya kembali ke 40 tahun lalu di mana pernah tinggal dan melakukan riset sangat lama di sini (PPKS), tambah Desmier yang terbang dari Melbourne, Australia.
Direktur Perbenihan Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Ebi Rulianti menyerahkan penghargaan Lifetime Achievement kepada Dr. Edwin Lubis mewakili ayahnya Dr. Adlin LubisEddy Martono mengatakan bahwa tahun 1982 tercatat sebagai tahun "keajaiban" bagi perkebunan sawit Indonesia. Sebelum tahun tersebut, penyerbukan kelapa sawit masih dilakukan secara manual oleh tenaga manusia atau bergantung pada angin, yang hasilnya sering kali tidak maksimal.
Ditambahkan Eddy bahwa riset dan kerja keras para peneliti ini untuk mendatangkan serangga Elaeidobius kamerunicus dari Kamerun, Afrika, telah mengubah sejarah. Kehadiran serangga kecil ini secara fundamental memperbaiki sistem penyerbukan alami, meningkatkan berat tandan buah, dan mendongkrak produktivitas nasional secara drastis.
“Jika hari ini kita berbicara tentang masa depan, maka para beliau telah lebih dahulu membangunnya sejak lebih dari empat dekade yang lalu,” ujar Eddy Martono dalam sambutannya.
Menurut Eddy, penghargaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pengakuan atas keberanian ilmiah dan visi jangka panjang yang dampaknya masih dirasakan oleh jutaan petani serta pelaku industri sawit hingga saat ini. Keberhasilan introduksi serangga penyerbuk ini menjadi fondasi kokoh yang menempatkan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia.
“GAPKI berharap dedikasi keempat tokoh ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi peneliti muda untuk terus berinovasi demi keberlanjutan industri sawit di masa depan,” pungkasnya.














