• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

FDG Biodiesel untuk Negeri: Upaya Mengedukasi Masyarakat Pentingnya Biodiesel dari Sawit

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Upaya mengedukasi masyarakat terkait energi terbarukan dari sawit (biodiesel) terus dilakukan. Salah satu dilakukan sawitsetara dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) melalui Focus Group Discussion yang diadakan pada Kamis (18 Juli 2024), di Jakarta.

Kegiatan tersebut dihadiri para peserta dan mahasiswa untuk menyamakan persepsi tentang biodiesel. Dalam FDG yang bertemakan “Biodiesel untuk Negeri” menghadirkan beberapa narasumber yaitu Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS, Achmad Mulizal Sutawijaya; Head Of Sustainability Division Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Rapolo Hutabarat; Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr.Rino Afrino, ST., MM; Pelaksana Fungsi Perencanaan Pemasaran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bina Restituta Barus, ST, MT.

Paparan diawali oleh Achmad Maulizal Sutawijaya, yang menjelaskan terkait program pemanfaatan dana sawit untuk biodiesel. Program Biodiesel sangat erat kaitanya dengan petani sawit, dengan adanya biodiesel menyerap TBS dari petani karena mendapatkan harga yang stabil dan kesejahteraan petani sawit. Selain itu, dengan adanya program biodiesel bisa untuk mengendalikan over stok TBS dari petani. “Dengan banyaknya manfaat biodiesel, kami terus melakukan promosi, advokasi riset dan pengembangan produksi serta penguatan sisi hilir sawit,” jelas Maulizal.

Lebih lanjut, ia mengatakan masih ada yang mengira biodiesel hanya untuk korporasi, tidak bermanfaat langsung bagi petani swadaya. Hal-hal inilah hal yang bisa kita jelaskan pada pertemuan kali.

“Dengan dihadiri mahasiswa bisa menjadi ambassador karena mereka generasi milineal ini sangat cepat menyebarkan informasi berkaitan manfaat biodiesel bagi petani sawit swadaya. Kami harapkan ini terus ditingkatkan kegiatan seperti ini, karena bagi kami di BPDPKS semakin banyak yang bisa diinformasikan, kami bisa membuat catatan yang baik terutama melawan black campaign untuk kelapa sawit Indonesia,” lanjut Maulizal.

Pada kesempatan yang sama, Rapolo Hutabarat menyoroti urgensi penanganan permasalahan di sektor hulu sawit sebagai kunci keberlanjutan program biodiesel.

Ia mengatakan pentingnya penyelesaian masalah di sektor ini karena menjadi penentu ketersediaan bahan baku. Permasalahan ini memang harus segera diselesaikan oleh negeri ini, terutama dari sisi hulu.

“Kita tahu bahwa banyak yang harus dikerjakan di sektor hulu, terutama karena inilah yang menentukan ada tidak bahan bakunya. “Pentingnya keberlanjutan program blending biofuel, seperti B40 dan kemungkinan peningkatan lebih lanjut ke B45 atau B50. Keberhasilan program-program ini sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku di sektor hulu,” kata Rapolo.

Para peserta dan pembicara Focus Group DIscussion Biodiesel untuk Negri yang diadakan sawitsetara dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit pada Kamis lalu. (dok.sawitsetara)

“Bahan baku itu menjadi salah satu kunci untuk dilakukan hilirisasi, baik dari sisi hilirisasi pangan, energi, dan kebutuhan lainnya untuk oleokimia. Kami berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan permasalahan di sektor hulu agar Indonesia dapat mencapai cita-cita besar dalam industri sawit, termasuk target produksi CPO sebesar 100 juta ton pada tahun 2045,” imbuhnya.

Dari sisi petani berkaitan dengan program biodiesel, Dr.Rino Afrino, ST., MM menambahkan perspektifnya tentang tantangan di sektor hulu sawit. Sebenarnya kalua ingin B40 atau B50 berarti butuh bahan baku lebih banyak. Itu matematika seperti itu,” ujar Rino.

“Maka perlunya peningkatan produktivitas melalui langkah-langkah pembenahan sektor hulu. “Pertama, legalitas. Kedua, tadi disorot bagaimana PSR dari 2,4 juta hektare ternyata baru 390 ribu, tidak sampai 10 persen,” jelas Rino.

Selain itu, isu legalitas lahan sebagai tantangan utama dalam meningkatkan produktivitas. Hari ini ada 3,4 juta hektare sawit yang tervonis dalam kawasan hutan, yang terancam akan hilang. Berapa devisanya? Berapa kebutuhan yang hilang? Dengan yang sekarang saja yang 47 juta ton kurang lebih itu sudah termasuk yang 3,3 juta tadi.

“Jadi di sinilah pemerintah harus melihat jika mereka sudah sepakat positif tadi kita sudah bicarakan sudah terjadi, perbaikan sosial, ekonomi, lingkungan serta negara terselamatkan rakyat perdagangannya,” ujar Rino

Sementara, Bina Restituta Barus, ST, MT menyampaikan bahwa sawit itu adalah anugerah terbesar Tuhan kepada bangsa Indonesia.

“Kita negara tropis yang mungkin limpah Sumber Daya Alamnya, tapi sebenarnya sawit ini adalah emas, bahkan banyak negara lain juga yang melirik penggunaaan sawit, kita melihat dari pembicaraan tentang sawit dari hulu – hilir bahwa sawit itu bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya, temen-temen bisa berkarya disawit. Jadi mulai dari mengembangkan disisi pertanian, teknologinya, sampai dengan disisi penjualannya,” kata Bina.

“Jadi mahasiswa yang mungkin masih panjang jalan langkah-langkah ke depannya. “Ini jangan lupa bahwa sawit ini adalah anugerah yang bisa temen-temen gunakan untuk modal dimasa depan, mengembangkan teknologi, bagaimana upayakan sawit supaya bermanfaat untuk dunia," pungkas Bina.

Artikel Terkait