• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Expo 2020 Dubai: Beragam Produk UMKM Sawit Diminati Pengunjung Paviliun Indonesia

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Beragam produk UMKM sawit yang difasilitasi Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menarik minat pengunjung Paviliun Indonesia di Expo 2020 Dubai. Produk yang ditampilkan mulai dari batik sawit, bio wax parafin, lilin aromaterapi sawit, dan hand sanitizer.

"Produk yang kami bawa ke rolling exhibition Paviliun Indonesia adalah buah karya dari para petani sawit Indonesia yang telah mendapatkan berbagai pelatihan mengenai pengolahan produk turunan kelapa sawit," ujar Sulthan Muhammad Yusa, Plt. Kepala Divisi Lembaga Kemasyarakatan & Civil Society, (BPDPKS), dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.

Sebelumnya, para petani sawit telah diberi edukasi dan pelatihan untuk membuat aneka produk dari olahan kelapa sawit yang dapat meningkatkan nilai jual.

Produk-produk tersebut telah dikurasi dan merupakan produk siap ekspor. Terdapat bio wax parafin yang digunakan sebagai pengganti lilin parafin berbasis minyak bumi mentah untuk melukis motif batik. Produk yang terbuat dari minyak sawit mampu memberi warna yang lebih cerah dan tajam pada setiap kain. Warna-warna yang dihasilkan mulai dari merah, biru muda, hingga cokelat tua dan muda.

"Produk ini tentu lebih ramah lingkungan karena limbah yang dihasilkan dapat mudah terurai kembali ke alam. Minyak sawit juga sudah teruji dapat menghasilkan produk ramah lingkungan dan terbarukan," kata Muhammad Yusa.

Perwakilan asosiasi sawit menghadiri Expo 2020 Dubai untuk memberikan informasi positif seputar kelapa sawit kepada pengunjung Paviliun Indonesia.

Selain bio wax parafin, produk lilin lainnya adalah lilin aromaterapi. Telah bersertifikat RSPO dan diproduksi dengan 100% bahan nabati, lilin aromaterapi ini menghadirkan wangi minyak kelapa sawit yang berkualitas tinggi, dengan sumbu yang berasal dari kapas murni.

Produk terakhir yang dipamerkan adalah hand sanitizer sawit. Dengan kandungan palm glycerol, hand sanitizer ini selain dapat membunuh bakteri, sekaligus dapat membantu melembutkan kulit yang terasa kasar jika sering menggunakan sanitizer.

“Kami juga bekerjasama dengan lembaga riset seperti IPB yang memberi pemahaman mengenai palm glycerol untuk para petani sawit tersebut, " urai Yusa.

Menurutnya edukasi ini merupakan hal yang baru bagi mereka dan sekaligus menjadi langkah awal untuk memberdayakan masyarakat sekitar lahan sawit ditambah dengan memproduksi produk-produk yang ramah lingkungan. Inilah yang disebut dengan konsep yang berkelanjutan karena memberi manfaat di segala komponen, mulai dari lingkungan hingga masyarakat sekitar.

Selain pameran di rolling exhibition, para pengunjung Paviliun Indonesia juga dapat menyaksikan demo pembuatan batik menggunakan bio wax paraffin. Pengunjung yang hadir sangat antusias dalam menonton kegiatan ini bahkan puluhan pengunjung memadati area pasar malam serta mendorong anggota keluarga mereka untuk ikut membuat batik bersama pengrajin yang hadir.

"Batik selalu menjadi daya tarik utama bagi warga dari luar Indonesia. Tentu kita akan terus mempromosikan batik sebagai salah satu kerajinan asli Indonesia dan salah satu warisan budaya dunia kepada komunitas global" Ujar Muhammad Yusa.

Peneliti BPPT, Indra Budi Susetyo, hadir di Paviliun Indonesia yang menampilkan malam batik berbahan sawit.

Adapun kegiatan pembuatan batik yang diperkenalkan adalah pembuatan batik tulis menggunakan canting. Kegiatan ini tengah menjadi perbincangan pengunjung sebagai salah satu kegiatan yang cocok untuk keluarga, dimana pengunjung anak-anak menjadi yang paling banyak mencoba secara langsung membuat batik dengan motif buatan mereka sendiri. Puluhan anak-anak telah mengkreasikan gambar, hingga corak sederhana yang telah mereka buat sebelumnya di sebuah lembar kain yang telah disediakan untuk kemudian di pandu dari awal mengambil lilin dengan canting, hingga menggunakan canting dengan benar.

Selain mengedukasi pengunjung dengan kegiatan interaktif, paviliun Indonesia juga terus memperkenalkan batik lewat area rolling exhibition. Dimana selama 182 hari tanpa henti, batik terus dipamerkan di tempat khusus, bahkan koleksi batik terus bertambah setiap minggunya karena setiap Kementerian atau Lembaga yang hadir akan membawa batik dari UMKM binaan.

Batik sendiri sebelumnya telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) pada 12 tahun lalu, lebih tepatnya pada tanggal 2 Oktober 2009. Di tanggal ini pula, ditetapkan sebagai hari batik nasional.

Setelah berbagai diskusi dan sesi seminar, kegiatan yang tidak kalah menarik juga telah disiapkan oleh BPDPKS. Rolling exhibition Paviliun Indonesia memang menjadi kegiatan yang selalu ditunggu-tunggu oleh setiap pengunjung. Apalagi setiap minggunya, aneka produk UMKM yang ditampilkan selalu unik dan berbeda dari yang sebelumnya.

Artikel Terkait