Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pemerintah dan pelaku industri kelapa sawit Indonesia didorong untuk lebih serius memperluas pasar ekspor ke luar Amerika Serikat, menyusul kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump. Tarif sebesar 32% yang dikenakan terhadap minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) asal Indonesia dinilai dapat menggerus daya saing produk nasional di pasar Negeri Paman Sam.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan tingginya bea masuk yang dikenakan terhadap CPO Indonesia berisiko mengurangi pangsa pasar ekspor nasional di AS, apalagi jika dibandingkan dengan negara pesaing seperti Malaysia yang hanya dikenai tarif 25%.
“Dengan selisih tarif yang cukup signifikan ini, ada kemungkinan pangsa pasar Indonesia akan tersisih oleh Malaysia di AS. Karena itu, ekspansi ke pasar lain harus dipercepat,” ujar Faisal, Rabu (9/7/2025).
Faisal menekankan pentingnya menggali peluang di pasar tradisional maupun nontradisional yang belum tergarap maksimal, mengingat daya saing CPO Indonesia masih cukup tinggi secara global. “Pasar kita sebenarnya luas, hanya perlu lebih agresif menggarapnya,” tambahnya.
Senada dengan Mohammad Faisal, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menyebut kebijakan tarif AS sangat mungkin membuat importir di negara tersebut beralih ke pemasok lain yang dikenai tarif lebih rendah.
“Importir di AS bisa memilih Malaysia atau negara-negara di Amerika Latin. Kalau tarif tetap di 32%, ekspor kita kemungkinan turun, meskipun belum bisa dipastikan seberapa besar dampaknya,” jelas Eddy.
Berdasarkan data Gapki, ekspor minyak sawit Indonesia ke AS sempat mencatat rekor tertinggi pada 2023 dengan volume 2,5 juta ton, namun menurun menjadi 2,2 juta ton pada 2024. Pangsa pasar CPO Indonesia di AS saat ini sekitar 89%.
Meski ada tekanan dari tarif, Eddy optimistis tren ekspor tidak sepenuhnya akan terus menurun, karena pasar CPO juga sangat dipengaruhi oleh dinamika pasokan minyak nabati lain seperti minyak kedelai dan bunga matahari.
“Kalau pasokan minyak nabati lain terganggu, permintaan terhadap minyak sawit bisa meningkat kembali. Yang penting, harga minyak sawit harus kompetitif agar tetap dilirik,” katanya.
Sebagai respons atas hambatan pasar di AS, Eddy menekankan pentingnya diversifikasi pasar ekspor ke wilayah yang masih memiliki potensi besar, seperti Afrika, Timur Tengah, Rusia, hingga Asia Tengah. Di sisi lain, pasar utama seperti China, India, Pakistan, dan Uni Eropa juga perlu dijaga agar kontribusinya terhadap ekspor nasional tetap kuat.
“Kita jangan hanya mengandalkan satu-dua negara. Strategi jangka panjang adalah memperluas dan menjaga pasar secara seimbang,” tandasnya.
Berita Terbaru














