Jakarta, SAWIT INDONESIA – Ekspor sawit Indonesia mengalami kelesuan di dua negara pembeli utama yaitu India dan China. Faktor harga menjadi persoalan utama karena minyak sawit tidak lagi kompetitif dibandingkan minyak nabati lain.
“Harga sawit sudah lebih tinggi daripada minyak nabati lain pada 2024, akibatnya China dan India mengurangi pembelian,” kata Fadhil Hasan, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri GAPKI melalui sambungan telepon, Selasa (5 Maret 2025).
Merujuk data GAPKI, ekspor sawit dari Indonesia ke China turun menjadi 4,48 juta ton sepanjang tahun 2024 dibandingkan tahun 2023 berjumlah 7,73 juta ton.
Sedangkan, ekspor sawit Indonesia ke India menjadi 4,66 juta ton pada 2024 daripada tahun 2023 sebesar 5,96 juta ton.
Fadhil mengatakan lesunya volume ekspor sawit juga disebabkan tantangan berkurangnya pasokan minyak sawit. Sejak 2-3 tahun lalu, pasokan minyak sawit lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik.
“Pertumbuhan produksi sawit lebih lambat daripada konsumsi domestik,” kata Fadhil.
Dikatakan Fadhil bahwa program mandatori biodiesel dari B35 menjadi B50 membuat konsumsi minyak sawit domestik naik 5,5 juta ton. Kenaikan konsumsi ini juga berdampak terhadap pertumbuhan ekspor sawit Indonesia.














