Jakarta, SAWIT INDONESIA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor minyak sawit dan turunannya sepanjang tahun 2024 mengalami penurunan baik secara nilai maupun volume dibanding tahun sebelumnya (YoY).
Pada 2024 ekspor sawit mencapai 21,60 juta ton, turun dibanding tahun sebelumnya yakni 26,13 juta ton atau 17,33 persen.
Secara nilai ekspor sawit pada 2024 sebesar US miliar, turun 11,78 persen dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar US,7 miliar.
“[Pada 2024] di tengah naiknya harga CPO di pasar internasional, ekspor CPO dan turunannya (HS 1511) turun baik secara nilai maupun volume jika dibandingkan dengan tahun 2023. Secara nilai turun 11,78% sedangkan secara volume turun lebih dalam yakni 17,33%,” ujar Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti kepada Majalah Sawit Indonesia, Senin (20/1/2025).
Dia menjelaskan penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti peningkatan kebutuhan CPO untuk biodiesel dan konsumsi, serta produksi dalam negeri yang cenderung stagnan.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengakui bahwa nilai dan volume ekspor produk sawit memang turun.
Merujuk data bulanan GAPKI yang diterbitkan pada Desember 2024 bahwa secara nasional ekspor sawit tahun lebih rendah 10% sebesar 24,8 juta ton untuk periode Januari – Oktober, dibandingkan dengan ekspor 2023 yang berjumlah 27,5 juta ton.
Walhasil, penurunan volume ekspor ini mengakibatkan nilai juga tergerus dalam sebesar US$ 22,4 miliar dari pada periode sama tahun lalu berjumlah US$ 25,5 miliar.
Saat berbicara di IPOC 2024, Eddy Martono menyebutkan sangat diperlukan advokasi perdagangan bebas dan fair karena setiap hambatan perdagangan akan menambah beban dan biaya bagi industri.
“Industri sawit sekarang ini menghadapi ketidak pastian karena potensi krisis makanan dan energi, dan juga hambatan-hambatan perdagangan yang diberlakukan negara-negara importir, seperti peraturan bebas deforestasi Uni Eropa (EUDR),” kata Eddy Martono.














