• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Ekspor Naik, Tapi Daya Saing Sawit Tertekan Regulasi

Jakarta, SAWIT INDONESIA — Industri kelapa sawit nasional menghadapi tekanan daya saing di pasar global meskipun kinerja ekspor pada 2025 mencatat peningkatan. Pelaku industri menilai berbagai kebijakan domestik, mulai dari kewajiban pasokan dalam negeri hingga pungutan ekspor, menambah beban industri di tengah persaingan dengan negara produsen lain.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan daya saing sawit Indonesia sempat tertekan ketika harga crude palm oil (CPO) berada di atas harga minyak nabati lain.

“Beberapa waktu lalu harga CPO lebih tinggi dibanding minyak nabati lain. Artinya sawit menjadi premium. Ini sebenarnya berbahaya karena bisa membuat negara pembeli beralih ke minyak nabati lain,” ujarnya dalam acara jumpa pers dan buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (12 Maret 2026).

Menurut Hadi, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi eksportir sawit Indonesia.

“Kalau harga CPO lebih tinggi dibanding minyak nabati lain, ini akan menjadi effort tersendiri bagaimana sawit bisa tetap diekspor,” katanya.

Selain faktor harga global, pelaku industri juga menyoroti berbagai kebijakan domestik yang dinilai menambah beban sektor sawit. Hadi menilai kebijakan seperti domestic market obligation (DMO) serta pungutan ekspor atau levy membuat biaya industri lebih tinggi dibandingkan negara pesaing.

“Kita punya banyak beban kebijakan. Ada DMO, ada levy yang relatif lebih tinggi dibanding Malaysia. Ini tentu memengaruhi daya saing kita,” ujarnya.

Ia menambahkan pemerintah juga tengah membahas sejumlah kebijakan lain yang berpotensi menambah beban industri, termasuk wacana pengenaan pajak permukaan air untuk perkebunan sawit.

“Kalau ditambah lagi dengan wacana pajak permukaan air untuk sawit, tentu ini perlu dikaji dengan hati-hati agar tidak semakin menekan industri,” katanya.

Meski demikian, Hadi menyebut harga CPO kembali lebih kompetitif sejak April 2025 sehingga membantu menjaga permintaan di pasar global.

Ekspor Masih Tumbuh

Di tengah berbagai tantangan tersebut, kinerja ekspor sawit Indonesia pada 2025 masih mencatat pertumbuhan.

Data GAPKI menunjukkan total ekspor sawit Indonesia mencapai 32,34 juta ton pada 2025 atau meningkat 9,51% dibandingkan ekspor 2024 sebesar 29,53 juta ton.

“Secara umum kinerja ekspor 2025 relatif baik. Mudah-mudahan kondisi ini bisa bertahan,” kata Hadi.

Namun demikian, ia mengakui beberapa pasar utama mencatat penurunan impor sawit Indonesia.

“Ada beberapa negara yang minus seperti India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Menurutnya, penurunan impor dari India antara lain dipengaruhi perubahan preferensi minyak nabati di negara tersebut.

“Mungkin di India ada shifting konsumsi minyak nabati. Ketika harga CPO lebih mahal, mereka bisa beralih ke minyak nabati lain,” katanya.

Sebaliknya, ekspor sawit Indonesia justru meningkat ke beberapa kawasan lain seperti Afrika dan China.

“Surplus kita ada di Afrika dan China. Permintaan dari kawasan itu cukup meningkat,” ujarnya.

Konsumsi Domestik Naik

Selain tekanan eksternal, industri sawit juga menghadapi peningkatan konsumsi domestik. Data GAPKI mencatat konsumsi sawit dalam negeri pada 2025 mencapai 24,77 juta ton, meningkat 3,82% dibandingkan 2024 sebesar 23,86 juta ton.

Kenaikan terbesar berasal dari konsumsi biodiesel yang meningkat menjadi 12,70 juta ton, naik 10,97% dari 11,45 juta ton pada tahun sebelumnya.

“Produksi kita relatif tidak banyak bergerak, sementara konsumsi dalam negeri terus naik. Itu sebabnya ekspor dalam beberapa tahun terakhir cenderung terkoreksi,” kata Hadi.

Produktivitas Masih Stagnan

Menurut Hadi, persoalan mendasar industri sawit saat ini terletak pada produktivitas kebun yang stagnan.

“Masalah utama kita sebenarnya produktivitas yang tidak banyak bergerak. Padahal konsumsi domestik terus meningkat,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai program peremajaan sawit rakyat (PSR) menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sawit nasional.

“Kami sudah berdiskusi dengan pemerintah mengenai kemungkinan agar program PSR lebih didorong, bahkan ada wacana menjadi mandatory bagi tanaman yang sudah memasuki usia replanting,” katanya.

Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Hadi menegaskan industri sawit tetap memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

“Kontribusi sawit selalu positif. Dalam situasi apa pun, sawit tetap menopang neraca perdagangan kita. Kalau tidak ada sawit, neraca dagang Indonesia bisa negatif,” ujarnya.

Artikel Terkait