Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pelaku usaha sawit berharap pemerintah dapat mengkaji benar berkaitan rencana percepatan mandatori biodiesel B50 pada 2026. Sebab, peningkatan presentase biodesel tersebut harus diimbangi dengan peningkatan produksi minyak sawit Indonesia yang saat ini kondisinya stagnan.Untuk diketahui, tahun ini pemerintah menerapkan B40 yang ditarget 15,62 juta kiloliter, naik dari 12,09 juta kiloliter penerapan B35.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan pihaknya mendukung cita-cita swasembada energi Presiden Prabowo Subianto. Hanya saja, ujar dia, pemerintah harus mempertimbangkan produktivitas dan juga pelemahan ekspor sawit yang saat ini terjadi.
“Sampai B100 pun kita siap. Tapi harus dihitung jika nanti B50 tahun depan, apakah stoknya cukup? Pasti akan mempengaruhi ke yang lain, terutama ekspor yang pada 2024 saja kita turun,” ujar Eddy dalam acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Memperkuat Ekonomi Kelapa Sawit untuk Kemandirian Ekonomi Indonesia”, di Jakarta, Selasa (4/2/2025). FGD tersebut merupakan rangkaian Harlah NU ke-102 yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU).
Eddy berujar pada tahun 2024 ekspor sawit Indonesia menurun dan hal tersebut berdampak pada devisa Indonesia.
Mengutip catatan Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor minyak sawit dan turunannya sepanjang tahun 2024 mengalami penurunan baik secara nilai maupun volume dibanding tahun sebelumnya (YoY). Pada 2024 ekspor sawit mencapai 21,60 juta ton, turun dibanding tahun sebelumnya yakni 26,13 juta ton atau 17,33 persen. Secara nilai ekspor sawit pada 2024 sebesar US miliar, turun 11,78 persen dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar US,7 miliar.
“Di 2024 ekspor sawit turun. Nah di pemerintahan baru ini kita berharap digenjot lagi ekspor. Penerapan biodiesel kami tidak menentang untuk ketahanan energi. Tapi harus dilihat mana yang lebih menguntungkan. Kalau menguntungkan negara otomatis rakyat merasakan. Kalau produksi stagnan, pasti ekspor dikorbankan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Eddy juga menegaskan jika peningkatan presentase biodesel harus diimbangin dari segi pasokan. Sebab, menurut dia, produktivitas sawit beberapa tahun terakhir stagnan. Eddy menjelaskan, produksi sawit Indonesia turun 4,3 persen, dari 54,8 juta ton pada 2023 menjadi 52,4 juta ton tahun 2024.
Dalam lima tahun terakhir, Eddy menambahkan, produksi sawit mengalami stagnasi dan bahkan trennya cenderung menurun. Penyebab utama penurunan tersebut, menurutnya, adalah keterlambatan dalam peremajaan sawit rakyat (PSR).
“Kalau PSR tidak dipercepat pasti bermasalah. Kita adalah produsen sekligus konsumen terbesar didunia. Justru jaur kemitraan dengan perusahaan banyak hambatannya, justru jalur kedinasan lebih lancar.














