• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

DMSI Dorong Transformasi Sawit: Fokus Emisi Rendah dan Minyak Bernutrisi Tinggi

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga menilai daya saing industri sawit nasional mulai tertekan sejak 2023. Kenaikan harga dan ketidakpastian pasokan dinilai menjauhkan sawit dari karakter dasarnya sebagai komoditas ber-volume besar dan berharga kompetitif.

“Habitat sawit itu volume besar dan harga terjangkau. Ketika harga tinggi dan suplai tidak stabil, daya saing ikut tergerus,” ujarnya dalam Diskusi yang bertemakan “Meneropong Daya Saing Sawit Pasca Penertiban Kawasan Hutan” di Jakarta, Rabu (18 Februari 2026) yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia.

Menurut Sahat, pergeseran pasar global juga perlu diantisipasi. China dan India mulai meningkatkan serapan minyak kedelai sebagai alternatif, sehingga Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan ekspor crude palm oil (CPO).

DMSI melihat ada aspek lain yang belum dioptimalkan, yakni potensi penurunan emisi karbon dan biomassa sawit. Sahat mengungkapkan telah mempresentasikan risetnya terkait inovasi teknologi pengolahan sawit di Malaysia pada 2023, yang kemudian mendapat respons dari China pada 2024.

Ia mengembangkan teknologi dry process yang memanfaatkan udara panas tanpa air, sehingga tidak menghasilkan limbah palm oil mill effluent (POME). Teknologi ini diklaim mampu menurunkan emisi karbon hingga 78% dibandingkan proses konvensional.

“Kalau produksi 52 juta ton per tahun dengan proses lama, emisinya bisa sangat besar. Dengan dry process, penurunannya signifikan,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) itu.

Ketertarikan investor China, lanjutnya, lebih tertuju pada aspek lingkungan dan potensi biomassa ketimbang CPO semata. Ia menyebut potensi biomassa sawit per ton produksi sangat besar dan belum dimonetisasi optimal.

Rebranding dari CPO ke DPMO

Sahat juga mendorong perubahan pendekatan pemasaran. Ia memperkenalkan konsep DPMO (The Genuine Palm Mesocarp Oil) untuk menggantikan persepsi negatif terhadap istilah CPO.

Menurutnya, DPMO memiliki sejumlah keunggulan, antara lain kandungan nutrisi yang lebih terjaga, emisi karbon lebih rendah, serta ketahanan oksidasi lebih baik. Ia mengkritik proses refining konvensional bersuhu tinggi (hingga 270°C) yang dinilai merusak sebagian besar nutrisi minyak sawit.

Sebagai alternatif, ia mengembangkan metode re-esterifikasi bersuhu 55°C yang diklaim mampu mempertahankan hingga 96% kandungan nutrisi. Produk turunan dari proses ini disebutnya sebagai RPMO (Re-esterified Palm Mesocarp Oil).

“Sawit jangan hanya diposisikan sebagai minyak goreng, tetapi sebagai minyak bernutrisi tinggi,” ujarnya.

Potensi Kesehatan dan Hilirisasi

DMSI juga menjajaki potensi pemanfaatan RPMO untuk kebutuhan nutrisi masyarakat, termasuk mendukung program penanganan stunting. Sahat menyatakan telah berdiskusi dengan kalangan akademisi untuk pengembangan lebih lanjut berbasis riset ilmiah.

Di sisi hilirisasi, ia menilai transformasi teknologi pengolahan menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar mengekspor bahan mentah, tetapi menjual produk bernilai tambah dan rendah emisi.

Selain inovasi teknologi, Sahat menekankan pentingnya peningkatan produktivitas kebun rakyat melalui program peremajaan (replanting). Ia memperkirakan kebutuhan investasi mencapai Rp171 triliun agar produktivitas petani naik dari rata-rata 9 ton menjadi 26 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun.

Menurutnya, keberhasilan transformasi sawit sangat bergantung pada penguatan sektor hulu rakyat, bukan hanya perusahaan besar.

“Kalau kita serius pada inovasi, emisi rendah, dan nutrisi tinggi, sawit Indonesia punya diferensiasi yang tidak dimiliki minyak nabati lain,” katanya.

Artikel Terkait