Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pemerintah menempatkan kemandirian pangan sebagai agenda strategis nasional untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak harga global, disrupsi logistik, dan ketergantungan pada impor. Menjelang 2026, sektor pertanian masih menghadapi tantangan struktural: pertumbuhan PDB sektor pertanian tertinggal dari pertumbuhan ekonomi nasional, pemulihan pascapandemi belum solid, produktivitas stagnan, dan adopsi teknologi berjalan lambat. Ketimpangan antar komoditas tetap terlihat, dimana padi relatif stabil dan jagung meningkat, sementara kedelai dan gula melemah. Impor beras khusus lebih dari 223 ribu ton pada Januari–Juli 2025 memperlihatkan bahwa produksi domestik belum mencukupi. Dalam situasi tekanan ekonomi global dan volatilitas harga pangan, pendekatan Food–Energy–Water Nexus menjadi krusial untuk memastikan konsistensi kebijakan dari hulu hingga hilir.
Endang Setyawati Thohari – Anggota Komisi IV DPR RI, menjelaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi membutuhkan konsistensi regulasi, kepastian tata kelola lahan, dan perlindungan bagi petani kecil. Menurutnya, risiko global seperti fluktuasi harga pangan, konflik geopolitik, dan ketidakpastian rantai pasok menuntut Indonesia memiliki sistem yang jauh lebih resilien. Transformasi pertanian harus mencakup penguatan riset dan inovasi benih, modernisasi logistik, efisiensi penggunaan input, serta revitalisasi infrastruktur irigasi untuk memastikan kenaikan produktivitas yang merata. Melalui fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan, Komisi IV berkomitmen memperkuat alokasi pendanaan pertanian dan mempercepat implementasi one map policy agar konflik lahan dapat dihindari. Endang juga menekankan pentingnya menjadikan petani kecil, masyarakat lokal, dan generasi muda sebagai pusat ekosistem pangan melalui akses yang lebih luas terhadap modal, teknologi, dan kemitraan yang berkeadilan.
Dwi Satriyo Annurogo – Direktur Operasi PT Pupuk Indonesia (PIHC), menyoroti bahwa ketersediaan pupuk, khususnya nitrogen, merupakan faktor kunci peningkatan produktivitas padi dan komoditas pangan lainnya. Dengan proyeksi peningkatan kebutuhan beras menuju Indonesia Emas 2045, tambahan produksi sebesar 5,69 juta ton perlu dipastikan melalui pemupukan yang tepat dan berkelanjutan. Dwi Satriyo menyampaikan bahwa kapasitas produksi nasional saat ini berada pada tingkat yang sangat memadai dan terus diperkuat melalui perbaikan tata kelola distribusi. Digitalisasi melalui command center, dashboard pemantauan, dan sistem pencatatan elektronik diterapkan untuk memastikan penyaluran subsidi pupuk berlangsung lebih transparan, akuntabel, dan tepat sasaran hingga ke tingkat petani. Ke depan, strategi transformasi industri pupuk akan berfokus pada peningkatan efisiensi energi, pengembangan pemupukan presisi, serta pembangunan pabrik baru di kawasan timur Indonesia untuk memperkuat rantai pasok nasional. Upaya ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi swasembada pangan sekaligus transisi menuju pertanian modern dan rendah emisi.
Abra Talattov – Kepala Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan INDEF, memaparkan analisis kinerja sektor pertanian berdasarkan data triwulanan sejak 2015. Pertumbuhan sektor pertanian berada di sekitar 4,9 persen pada Triwulan III-2025 dengan tingkat fluktuasi yang lebih tinggi dibandingkan PDB nasional yang stabil di atas 5 persen. Hal ini memperlihatkan bahwa pertanian belum pulih secara struktural dari dampak pandemi. Padi dan jagung menunjukkan perbaikan output, tetapi komoditas strategis seperti gula dan kedelai mengalami stagnasi atau penurunan. Sementara itu, permintaan terhadap pangan berbasis impor seperti gandum, gula, dan kedelai terus meningkat tanpa diimbangi kapasitas produksi domestik yang memadai. Kondisi ini memperlemah neraca pangan 2025 yang sudah menunjukkan tekanan pada aspek ketersediaan maupun stabilitas harga.
Pemerintah menempatkan kemandirian pangan sebagai agenda strategis nasional untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak harga global, disrupsi logistik, dan ketergantungan pada impor. Menjelang 2026, sektor pertanian masih menghadapi tantangan struktural: pertumbuhan PDB sektor pertanian tertinggal dari pertumbuhan ekonomi nasional, pemulihan pascapandemi belum solid, produktivitas stagnan, dan adopsi teknologi berjalan lambat. Ketimpangan antar komoditas tetap terlihat, dimana padi relatif stabil dan jagung meningkat, sementara kedelai dan gula melemah. Impor beras khusus lebih dari 223 ribu ton pada Januari–Juli 2025 memperlihatkan bahwa produksi domestik belum mencukupi. Dalam situasi tekanan ekonomi global dan volatilitas harga pangan, pendekatan Food–Energy–Water Nexus menjadi krusial untuk memastikan konsistensi kebijakan dari hulu hingga hilir.














