• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Dirut BPDPKS Uraikan Kesuksesan Program Biodiesel Indonesia di 3rd SVOC Rotterdam

Rotterdam, SAWIT INDONESIA - Kesuksesan program biodiesel Indonesia menjadi topik perbincangan menarik di forum internasional. Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyebut pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel membantu Indonesia mencapai target ketahanan energi dan bauran energi sebesar 23% energi terbarukan pada tahun 2025.

Hal itu diungkapkan Eddy Abdurrachman saat menyampaikan pidato pengantar dalam 3rd Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) di Rotterdam, Belanda, Selasa (10/9/2024) waktu setempat.

“Di Indonesia, biodiesel minyak sawit telah dimanfaatkan untuk berbagai sektor dalam negeri, termasuk transportasi, industri dan komersial, serta pembangkit listrik. Pelaksanaan program biofuel sangat krusial bagi Indonesia dalam mencapai komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca sebagaimana yang telah disampaikan oleh Presiden pada UNFCCC di Paris tahun 2015. Oleh karena itu, kita telah mempersiapkan peningkatan persentase biodiesel menjadi 40% yang dipimpin oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,” ujarnya dalam kesempatan tersebut.

Dia sendiri menyampaikan pidato dalam sesi ke-3 SVOC, Biofuel dan Lainnya: Minyak Nabati dalam Upaya Mencapai Ketahanan Energi. Dalam sesi ini, membahas tentang bagaimana minyak nabati berkontribusi terhadap ketahanan energi, beserta dampak, tantangan, dan peluangnya dalam perspektif global.

Eddy memaparkan bahwa setiap tahun, permintaan dan pasokan minyak nabati dunia tumbuh rata-rata 8,5 juta MT dan 8,2 juta MT. Sebagai komoditas yang paling produktif, minyak sawit menyumbang rata-rata 42% dari total pasokan minyak nabati dunia. Oleh karena itu, pergerakan harga minyak sawit berkorelasi langsung dengan produktivitasnya.

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia berharap dapat memproduksi lebih dari 50 juta ton minyak sawit pada tahun 2025. Menurutnya hal ini akan menyediakan lebih banyak pasokan untuk industri makanan, termasuk minyak goreng dan makanan berbahan dasar minyak sawit serta biodiesel baik untuk domestik maupun ekspor, untuk pasar global. Lebih jauh, Indonesia menguasai lebih dari separuh pasar minyak sawit dunia.

“Dengan jumlah ini, Indonesia secara strategis berada di posisi terdepan untuk memasok permintaan minyak nabati dunia yang terus meningkat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Eddy mengungkap jika Indonesia pada 2025 akan meluncurkan campuran sawit 40 persen (B40). Selain membantu Indonesia dalam mencapai target pengurangan emisi dan bauran energi terbarukan, Eddy mengatakan bahwa program biofuel wajib kita juga memiliki banyak manfaat, seperti mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan impor, sehingga kita memiliki kendali lebih besar atas strategi harga bahan bakar dalam negeri.

“Program ini juga meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi kita dengan memanfaatkan komoditas dalam negeri sebagai bahan baku untuk memproduksi bahan bakar. Penyerapan biodiesel juga membantu menstabilkan harga CPO, dengan jumlah CPO yang cukup besar untuk memasok kilang biodiesel di seluruh negeri,” ungkapnya.

Dari perspektif perdagangan internasional, hal ini memperbaiki defisit neraca perdagangan dan menghemat devisa, dan yang terakhir dan mungkin yang paling penting adalah program biodiesel membantu industri dalam meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi industri kelapa sawit.

“Produksi dan konsumsi biodiesel kita terus meningkat hingga mencapai sekitar 13 juta KL tahun ini. Ini akan menjadi kunci pondasi kita dalam upaya memperluas penciptaan pasar domestik untuk minyak kelapa sawit. Konsistensi pemerintah Indonesia dalam melaksanakan program biofuel dalam satu dekade terakhir, telah berdampak pada stabilitas harga CPO dan biodiesel,” tutur Eddy.

Menurutnya, Program B35 memastikan permintaan domestik CPO tetap stabil, di tengah naik turunnya harga CPO. Program ini juga berkontribusi pada kepastian pasokan energi domestik di tengah kelangkaan energi dunia.

“Semoga ini menjadi bukti kepada dunia, Indonesia sangat serius dengan program biodiesel kita, kita berkomitmen, dan siap mengembangkan program lebih lanjut dengan persiapan B40-B50,” tuturnya.

Artikel Terkait