Jakarta, SAWIT INDONESIA – Joko Supriyono, Dewam Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) baru saja merilis buku berjudul “Masih Berjayakah Sawit Indonesia? Menghadapi Tantangan Sustainability Global”.
Buku yang ditulis Ketum Gapki periode 2015-2023 tersebut merangkum sejumlah tantangan dan solusi yang melingkupi industri kelapa sawit beberapa tahun terakhir. Selain soal sustainability, industri yang menjadi andalan Indonesia tersebut hingga kini memiliki risiko stagnansi produktivitas.
“Di sisi lain, kelapa sawit telah menjadi bagian integral dari lanskap sumber energi global sehingga Indonesia dirasa perlu fokus pada strategi global maupun regional untuk menentukan masa depan kelapa sawit,” tegas Joko yang juga Dewan Pengawas BPDPKS dalam acara peluncuran dan bedah bukunya di Jakarta (4 September 2024).
Bedah Buku ini menghadirkan sejumlah narasumber antara lain 5 narasumber antara lain Dr. Musdhalifah Machmud (Staf Ahli Kemenko Perekonomian RI), Prof. Rachmat Pambudy (Guru Besar IPB University), Firman Subagyo, (Anggota DPR RI), Eddy Martono ( Ketua Umum GAPKI), dan Prof. Dr. Bustanul Arifin (Guru Besar Universitas Lampung) yang dimoderatori Dr. Purwadi (Ketua Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta).
Seusai bedah buku, Joko Supriyono menyerahkan buku kepada sejumlah koleganya salah satunya Eddy Abdurrachman, Direktur Utama BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit).
Eddy Abdurrachman mengapresiasi buku ini yang dinilai sangat jelas, menarik, dan inspiratif. Pendekatan yang ditempuh adalah kombinasi antara analisis ekonomi, kebijakan dan cara bercerita yang sangat piawal oleh penulis.
Dijelaskan Eddy bahwa kepiawaian Joko Supriyono menjabarkan industri kelapa sawit mencakup berbagai aspek. Selain itu, buku setebal 340 halaman ini berisi tinjauan historis tentang perkembangan kelapa sawit di Indonesia dari waktu ke waktu.
Penerbitan buku Joko Supriyono berjudul Masih Berjayakah Sawit Indonesia Menghadapi Tantangan Sustainability Global pun didukung oleh PT Astra Agro Lestari Tbk., BPDP-KS, Sinarmas, First Resources, Musim Mas, Wilmar, Asian Agri dan PT Unggul Widya Teknologi, PT Triputra Agro Persada Tbk., dan Bahroeny Grup.














