• Senin, 5 Oktober 2026
Berita Terbaru

Direktur AKPY – STIPER: Transformasi Pendidikan Sawit untuk Sawit Berkelanjutan

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA - Pada forum diskusi sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit mengemuka perlunya perubahan (transformasi) pendidikan untuk sawit berkelanjutan dan menjawab tantangan yang ada.

Hal tersebut dikemukakan oleh Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY – STIPER), Dr. Sri Gunawan, saat menjadi salah satu narasumber, di acara Workshop Sumber Daya Manusia Industri Perkebunan Kelapa Sawit, yang dilangsungkan oleh INSTIPER Yogyakarta, pada Selasa (9 Desember 2025), di Yogyakarta.

Dikatakan Dr. Sri Gunawan transformasi pendidikan untuk sektor sawit berkelanjutan bukan tanpa dasar, melainkan memang adanya kebutuhan dalam rangka mendukung sektor perkebunan sawit di masa kini dan mendatang. Dari hasil kajian yang dilakukan ada beberapa faktor yang mendasari perlunya transformasi pendidikan untuk keberlanjutan sektor sawit nasional.

“Setelah dipetakan antara potensi dan kebutuhan SDM di sektor sawit. Terlihat adanya gap kompetensi (kebun & PKS), mismatch lulusan, kurikulum tidak Link & Match dengan Dunia Kerja Dunia Industri/DUDI (tidak sesuai SKKNI), minim instruktur/praktisi industri di pendidikan, literasi data & digital rendah,” katanya.

“Untuk itu, dibutuhkan SDM yang inovatif, kreatif dan adaptif, baik di kebun (on-farm), PKS (off-farm) dan rantai pasok & sustainability. Kebutuhan SDM ini untuk jangka pendek menengah dan panjang,” tambah Dr. Sri Gunawan.

Lantas, kebutuhan SDM seperti apa yang diperlukan di sektor sawi? Pria yang menjabat sebagai Direktur AKPY-STIPER ini, menjelaskan di era teknologi yang tengah berkembang yakni mekanisasi, otomasi dan digitalisasi, sektor sawit memerlukan SDM yang harus memiliki kompetensi.

“SDM yang mempunyai kemampuan berfikir kritis, inovatif, logic, adaptif dan mampu berkomunikasi efektif. Selain itu, melek teknologi, literasi data, literasi digital, literasi manusia, dan analisis data. Hal lainnya SDM di sektor sawit juga harus paham sustainability dan standar Global (RSPO, ISPO, EUDR),” jelasnya, dalam forum yang diadakan INSTIPER Yogyakarta, bagian dari perayaan Dies Natalis ke-67.

Apa yang disampaikan Dr. Sri Gunawan, menjawab tantangan sektor sawit terutama dalam pengelolaanya yang masih menggunakan cara konvensional, sementara di sisi lain perlu adanya perubahan seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi.

"Kalau tidak berubah, industri ini (sawit) akan tertinggal oleh teknologi yang bergerak lebih cepat sehingga perlu menyiapkan SDM yang inovatif, kreatif dan adaptif, baik di kebun (on-farm), PKS (off-farm) dan rantai pasok & sustainabilitya,” ucapnya.

Dampak dari transformasi pendidikan dalam mencetak SDM yang mampu menerapkan teknologi di sektor sawit antara lain peningkatan produktivitas, peningkatan efisiensi waktu & tenaga, peningkatan kualitas produk, lebih preventif terhadap permasalahan, akses informasi lebih cepat akurat serta real time, membantu mempercepat proses pengambilan keputusan, ramah lingkungan dan keberlanjutan.

Artikel Terkait