Kinerja emiten sawit sebagian besar sangat kinclong di sepanjang 2024. Tren positif harga CPO menjadi faktor utama. Rata-rata pendapatan tumbuh antara 5%-15%.
Berkah harga sawit membawa dampak positif bagi pendapatan perusahaan. Tercatat, ada lima perusahaan yang melantai di bursa saham (emiten) di sektor sawit yang membukukan pendapatan tertinggi.
Kelima perusahaan ini adalah PT Sinar Mas Agro Resources and Techonology Tbk, PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Salim Ivomas Pratama Tbk, PT Dharma Satya Nusantara Tbk, dan PT Triputra Agro Persada Tbk.
Rata penjualan ditopang harga komoditas sawit. Tren positif harga ini menutupi lesunya produksi sawit yang dialami sejumlah perusahaan. Berikut ini kami sampaikan kinerja kelima perusahaan ini:
- PT Sinar Mas Agro Resources and Techonology Tbk
PT Sinar Mas Agro Resources and Techonology Tbk mencetak kenaikan penjualan 18% sepanjang 2024 menjadi Rp 78,8 triliun. Kontributor utama pendapatan emiten berkode SMAR ini dari penjualan produk rafinasi seperti minyak goreng sebesar Rp 42 triliun. Disusul dari segmen biodiesel sebesar Rp 17,6 triliun.
Dalam keterbukaan informasi perusahaan disebutkan bahwa sejalan dengan strategi untuk memfokuskan pada produk bernilai tambah, kontribusi produk turunan mencapai 78% dari total penjualan.
Perseroan mencatat kinerja keuangan yang baik di tahun 2024 dengan marjin EBITDA yang sehat meskipun terdampak kondisi El Niño di tahun 2023.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga naik 39% menjadi Rp1,27 triliun pada 2024, lebih tinggi dibandingkan tahun 2023 sebesar Rp918 miliar.
Walaupun kinerja keuangan membaik tetapi tidak diikuti produksi sawit perusahaan. Produksi SMART pada tahun 2024 mengalami penurunan akibat dampak El Niño yang terjadi di tahun 2023 dan persiapan lahan untuk peremajaan tanaman.
Produksi CPO perusahaan minus 6% menjadi 532 ribu ton pada 2024, daripada tahun 2023 sebesar 567 ribu ton. Begitupula produksi palm kernel ikut turun menjadi 145 ribu ton.
2. PT Astra Agro Lestari Tbk
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) catat capaian kinerja keuangan 2024 dengan pendapatan bersih pada tahun 2024 sebesar Rp 21,82 triliun naik 5,2% dari Rp 20,75 triliun pada tahun sebelumnya. Selain top line, AALI juga mencatatkan kenaikan pada bottom line-nya sebesar 9% year-on-year (yoy) menjadi Rp1,15 triliun. Salah satu penyebab kenaikan kinerja finansial AALI didorong oleh peningkatan permintaan pasar yang signifikan.
Hal itu tidak hanya didasari oleh peningkatan harga dan kenaikan permintaan. Melainkan, ada faktor lain yang ikut berkontribusi dalam lesatan kinerja top line dan bottom line ialah optimalisasi aset, pengendalian biaya operasional serta memaksimalkan pendapatan dari anak usaha perusahaan.
Hal tersebut disampaikan Direktur Keuangan sekaligus Corporate Secretary Tingning Sukowignjo dalam keterangan resmi yang diterima redaksi sawitindonesia.com, pada Selasa (8 April 2025).
Tingning Sukowignjo menjelaskan pencapaian Astra Agro pada 2024 merupakan hasil dari berbagai strategi yang diterapkan, yakni efisiensi biaya operasional, peningkatan keunggulan operasional, dan inovasi dalam proses produksi.
“Strategi tersebut akan terus dijalankan secara konsisten sebagai bagian dari pembenahan berkelanjutan (continuous improvement) serta ditanamkan menjadi bagian dari budaya perusahaan,” jelasnya.
“Kami berkomitmen untuk terus menjaga kinerja keuangan yang sehat sekaligus menjalankan praktik bisnis yang berkelanjutan. Kami tetap optimis menghadapi tantangan di masa mendatang dan berkomitmen untuk terus memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham serta berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” imbuh wanita yang meniti karir di Grup Astra.
3. PT Salim Ivomas Pratama Tbk
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) melaporkan laporan keuangan tahun buku 2024 dengan pencapaian penjualan Rp 15,96 triliun sepanjang 2024.
Merujuk siaran pers yang dikutip Sabtu (1/3), penjualan divisi perkebunan dan Minyak & Lemak Nabati (EOF) naik masing-masing 10% yoy dan 9% yoy.
Peningkatan harga jual rata-rata produk sawit dan produk EOF berkontribusi pada kenaikan penjualan divisi perkebunan dan EOF yang sebagian diimbangi oleh penurunan volume penjualan produk sawit.
“Namun, penjualan eksternal Grup SIMP (setelah eliminasi) relatif sama secara tahunan (yoy) seiring kenaikan penjualan antar segmen,” ungkap Direktur Utama SIMP, Mark Wakeford, dalam keterangannya.
Mark menambahkan emiten berkode SIMP ini meraih kinerja keuangan yang positif terutama seiring kenaikan harga komoditas serta upaya-upaya perseroan dalam pengendalian biaya dan efisiensi.
“Kami tetap berfokus pada peningkatan kegiatan operasional dan produktivitas, memprioritaskan belanja modal pada aspek-aspek yang penting, peningkatan pengendalian biaya dan efisiensi serta melakukan praktik-praktik agrikultur yang baik secara berkelanjutan,” tandasnya.
Hingga akhir tahun 2024 laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih SIMP naik 110% yoy menjadi Rp1,55 triliun. Padahal, di tahun sebelumnya laba bersih SIMP hanya mencapai Rp 736 miliar.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 162)














