• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Deklarasikan WCOPS, Petani Sawit Sedunia Serukan 6 Pernyataan Bersama

Nusantara, SAWIT INDONESIA – 12 organisasi petani sawit dari tujuh negara produsen sawit mendeklarasikan berdirinya Koalisi Petani Kelapa Sawit Sedunia/ World Coalition of Oil Palm Smallholders sebagai rangkaian International Palm Oil Smallholder Forum (IOPS) 2026 yang berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 di Gedung Serbaguna Ibu Kota Nusantara (IKN).

Adapun WCOPS menghimpun 12 organisasi petani sawit dari tujuh negara. Dari Indonesia, terdapat lima organisasi, yakni Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), SAMADE, FORTASBI, SPKS, dan ASPEKPIR. Sementara dari negara lain, WCOPS melibatkan NPPAN dari Nigeria; DOPPA dan PKPKM dari Malaysia; FENAPALMAH dari Honduras; OPDAG dari Ghana; Krabi Oil Palm Growers’ Cooperative Federation dari Thailand; serta AIPH dari Pantai Gading.

Penandatanganan pernyataan bersama ini dari Indonesia melalui APKASINDO diwakili Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO., Ketua Umum SAMADE Tolen Ketaren, ASPEKPIR, dan Fortasbi.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO), Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO menyatakan petani sawit memiliki posisi yang sangat strategis dalam industri kelapa karena itu petani tidak boleh hanya menjadi pihak yang menerima dampak dari berbagai kebijakan, tetapi harus menjadi pemberi masukan dan memiliki posisi tawar yang setara dalam rantai industri sawit.

“Perjuangan petani bukanlah perjuangan untuk berhadapan dengan korporasi ataupun pemerintah. Sebaliknya, petani ingin membangun hubungan yang lebih adil sehingga kepentingan petani dapat ditempatkan secara proporsional dalam industri sawit,” ujarnya.

Tuan Haji Adzmi bin Hassan turut mengapresiasi inisiatif APKASINDO yang mengadakan forum pertemuan petani sawit dari negara produsen sawit ini sebagai upaya memperkuat peranan petani di sektor industri.

Sementara itu, Alphonsus Inyang, The President of The National Palm Produce Association of Nigeria merasa senang dapat berkumpul bersama asosiasi petani sawit dari berbagai negara untuk menyerukan kepentingan petani sawit dalam peta industri sawit global.

Penandatanganan juga diikuti perwakilan organisasi petani dari sejumlah negara, antara lain Tuan Haji Adzmi bin Hassan dari PKPKM, Malaysia; Alphonsus Inyang, The President of The National Palm Produce Association of Nigeria; Paul Amaning dari OPDAG, Ghana; Dr. Napoleon R. Ningkos dari DOPPA, Malaysia; Allan Maradiaga dari FENAPALMAH, Honduras; Luwo Guy Marcel dari AIPH, Pantai Gading; serta Orawan dari Krabi Oil Palm Growers’ Cooperative Federation, Thailand.

Pertemuan petani sawit ini melahirkan 6 poin utama pernyataan bersama yang diserukan oleh para petani sawit sedunia antara lain:

  1. Peningkatan Representasi Petani dalam Tata Kelola Global
    Menuntut peran sentral dan aktif dalam pembuatan kebijakan global. Petani menegaskan bahwa regulasi internasional dan standar keberlanjutan tidak boleh dibuat secara sepihak oleh negara konsumen, melainkan harus melibatkan suara petani kecil dari negara produsen.
  2. Jaminan Keberlanjutan yang Inklusif
    Menegaskan komitmen terhadap aspek keberlanjutan, namun mendesak agar regulasi internasional mengadopsi pendekatan inklusif, bukan menghukum (punitive). Dibutuhkan tanggung jawab bersama (shared responsibility) yang mencakup peningkatan kapasitas, inklusivitas perempuan, pendidikan anak, serta dukungan finansial bagi petani rakyat.
  3. Stabilisasi Harga TBS dan Perdagangan yang Adil
    Mendesak pembentukan mekanisme penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang transparan, teregulasi, dan adil di setiap negara produsen. Hal ini sangat krusial untuk melindungi petani kecil dari volatilitas pasar serta praktik monopoli demi menjamin pendapatan yang layak.
  4. Pembentukan Koalisi Petani Sawit Sedunia (WCOPS)
    Meresmikan pendirian forum komunikasi dan advokasi berskala global yang dinamakan World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS). Aliansi global ini dibentuk sebagai wadah bersatu untuk memfasilitasi pertahanan bersama terhadap kampanye negatif, pertukaran informasi, serta diplomasi bersama.
  5. Akselerasi Ekonomi Sirkular dan Praktik Pertanian yang Baik (GAP)
    Berkomitmen meningkatkan kapasitas petani rakyat melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dan Good Agricultural Practices (GAP). Petani mendesak pemerintah dan sektor swasta untuk memfasilitasi akses teknologi pertanian modern, penciptaan nilai tambah, serta penyediaan dana peremajaan (replanting) sawit.
  6. Penolakan Hambatan Dagang yang Diskriminatif
    Menolak keras segala bentuk hambatan perdagangan unilateral yang disamarkan sebagai tameng perlindungan lingkungan. Kebijakan diskriminatif tersebut dinilai meminggirkan petani kecil. Forum menuntut pengakuan timbal balik (mutual recognition) terhadap standar keberlanjutan nasional dan internasional di pasar global. Melalui deklarasi ini, para petani kecil kelapa sawit dunia menegaskan komitmennya untuk bergerak selaras dengan agenda hijau global tanpa harus mengorbankan kesejahteraan ekonomi lokal yang menjadi tumpuan jutaan keluarga di negara produsen.

Artikel Terkait