Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Persoalan industri perkebunan yang semakin kompleks membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menemukan dan menawarkan solusi nyata. Maka dengan kondisi tersebut, mahasiswa didorong mengambil peran lebih besar sebagai peneliti muda, inovator, sekaligus problem solver bagi industri perkebunan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER), Dr. Sri Gunawan, SP.,MP.,IPU, dalam Sosialisasi Lomba Riset Tingkat Mahasiswa BPDP Tahun 2026–2027 di kampus AKPY-STIPER, pada Sabtu (22 Agustus 2026).
Diungkapkan Dr. Sri Gunawan, industri perkebunan menghadapi tantangan yang semakin beragam. Mulai dari peningkatan produktivitas, perubahan iklim, efisiensi penggunaan pupuk dan air, mekanisasi, digitalisasi, otomasi, artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), pengelolaan limbah, energi terbarukan, hilirisasi produk, hingga tuntutan keberlanjutan.
Di sisi lain, sektor perkebunan juga menghadapi persoalan sosial, konflik, pencurian, dan berbagai tantangan lain yang membutuhkan pendekatan dan solusi yang tepat.
“Solusi permasalahan industri perkebunan Indonesia membutuhkan riset, inovasi teknologi, kreativitas dan motivasi di kalangan mahasiswa perkebunan,” ungkap Dr. Sri Gunawan.
Lebih lanjut, ia menekankan, penelitian untuk menghasilkan solusi tidak selalu harus berskala besar, membutuhkan biaya tinggi, ataupun menggunakan metode yang rumit. Sebaliknya, inovasi yang memiliki dampak besar dapat berawal dari persoalan sederhana yang ditemukan di lapangan.
Persoalan tersebut kemudian diamati, dipikirkan, diuji, dan dibuktikan secara ilmiah hingga menghasilkan solusi yang dapat diterapkan.
Oleh karena itu, Sri Gunawan mengajak mahasiswa untuk tidak ragu memulai penelitian.
“Jangan takut melakukan riset. Riset tidak hanya milik profesor atau peneliti senior. Mahasiswa juga harus menjadi peneliti muda, inovator, sekaligus problem solver bagi industri perkebunan,” tegasnya.
Riset harus berdampak
Menurut Dr. Sri Gunawan, proses riset juga menjadi sarana penting untuk membentuk pola pikir mahasiswa. Melalui penelitian, mahasiswa belajar berpikir kritis, menemukan masalah, mencari solusi, melakukan percobaan, menganalisis data, menarik kesimpulan, hingga menghasilkan inovasi.
Dengan pola tersebut, lomba riset mahasiswa tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan proposal atau laporan penelitian. Lebih jauh, riset diharapkan mampu menjawab kebutuhan industri dan menghasilkan solusi yang memiliki nilai tambah.
“Kami berharap dari kegiatan sosialisasi hari ini akan muncul banyak proposal penelitian mahasiswa yang berkualitas,” katanya.
Namun, Sri Gunawan memberikan penekanan bahwa perjalanan sebuah riset tidak seharusnya berhenti pada dokumen penelitian.
Hasil penelitian diharapkan dapat berkembang menjadi inovasi, teknologi, produk, bahkan bisnis baru di sektor perkebunan.
Pandangan tersebut menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai objek pendidikan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem inovasi perkebunan. Persoalan yang ditemukan di kebun dapat menjadi sumber ide penelitian, sementara hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi solusi yang memberi manfaat bagi pekebun maupun industri.
“Harapannya, dari ruangan ini nantinya lahir peneliti muda dan inovator perkebunan Indonesia,” ujarnya.
Sosialisasi Lomba Riset Tingkat Mahasiswa BPDP Tahun 2026–2027 diikuti mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain AKPY-STIPER, INSTIPER, LPP, UGM, UNY, dan UTP. Kegiatan tersebut juga dihadiri Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko BPDP Zaid Burhan Ibrahim, Tim Penilai Lomba Riset Mahasiswa Dr. Aiyen Tjoa, Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP Rahmat Widiana, serta Pejabat Pembuat Komitmen BPDP dan Kepala Divisi KLI BPDP Mushlih.
Hadir pula jajaran staf Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, pimpinan perguruan tinggi, dosen, dan dosen pendamping.
Bagi AKPY-STIPER, kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat budaya riset di kalangan mahasiswa sekaligus mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan nyata industri perkebunan.
Dr. Sri Gunawan berharap mahasiswa dapat melihat berbagai persoalan di lapangan bukan semata-mata sebagai kendala, tetapi sebagai peluang untuk melahirkan gagasan baru.
Riset mahasiswa dapat memiliki perjalanan yang lebih panjang: dimulai dari masalah, dikembangkan melalui penelitian, menghasilkan inovasi, kemudian diterapkan menjadi teknologi dan produk, hingga berpotensi menciptakan bisnis baru di sektor perkebunan.
“Kita jadikan kegiatan ini sebagai titik awal untuk membangun: riset unggul, inovasi berdampak, dan perkebunan Indonesia berkelanjutan,” pungkas Dr. Sri Gunawan.














