• Jumat, 9 Oktober 2026
Berita Terbaru

Dari Mandor Rawat hingga PIC SHE, Alumni AKPY-STIPER Buktikan Perempuan Bisa Berkarier di Industri Sawit

Ungaran, SAWIT INDONESIA — Industri perkebunan kelapa sawit bukan hanya ruang bagi laki-laki. Seria Pakpahan, alumni Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER) angkatan keenam, membuktikan perempuan juga mampu berkembang dan menempati posisi strategis di industri sawit.

Lulus pada 2022, Seria memulai kariernya di PT Astra Agro Lestari setelah menjalani magang selama tiga bulan. Ia kemudian ditempatkan di wilayah Sulawesi Barat sebagai Mandor Rawat Pruning selama tiga tahun.

Memasuki tahun keempat bekerja, Seria mendapatkan kesempatan promosi menjadi Supervisor sekaligus penanggung jawab Safety, Health, and Environment (SHE). Saat ini, ia menjalankan peran tersebut di wilayah Riau, PT TPP (Tunggal Perkasa Plantations).

Perjalanan karier Seria tidak terlepas dari bekal pendidikan vokasi yang diperolehnya di AKPY-STIPER. Menurut dia, pendidikan tersebut memberinya pengetahuan teknis perkebunan sekaligus membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan kepemimpinan.

“Awalnya saya tidak mengenal sawit. Namun, ketika masuk AKPY-STIPER, saya mulai melihat bahwa industri sawit memiliki potensi besar untuk karier,” ujar Seria, saat dihubungi usai memberikan motivasi kepada mahasiswa baru AKPY-STIPER pada kegiatan Pembukaan Kuliah dan Bintalfisdisbun AKPY-STIPER TA 2026/2027, di SEAT (KP2 STIPER) Ungaran.

Ia mengakui, bekerja di perkebunan sawit sebagai perempuan bukan tanpa tantangan. Ketika pertama kali terjun ke lapangan, ia harus beradaptasi dengan lingkungan kerja sekaligus belajar mengarahkan anggota tim.

Namun, pengalaman selama kuliah membantunya menghadapi tantangan tersebut. Pendidikan kepemimpinan yang diperolehnya di kampus menjadi bekal untuk memahami cara memimpin secara bijaksana, membangun kerja sama, dan mengarahkan tim mencapai target pekerjaan.

“Pendidikan leadership di AKPY mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin yang bijaksana dan membangun hubungan yang baik dengan tim. Itu yang saya ingat dan terapkan ketika mulai bekerja,” katanya.

Bina Mental dan Praktik Lapangan Jadi Bekal

Bagi Seria, salah satu bekal paling penting dari AKPY-STIPER adalah pembinaan mental. Menurut dia, dunia kerja memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan lingkungan perkuliahan sehingga membutuhkan ketahanan, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar.

“Seberat apa pun tantangan di dunia kerja, mental yang saya dapatkan dari AKPY membantu saya bertahan sampai sekarang,” ujarnya.

Selain pembinaan mental, pengalaman praktik lapangan dan magang juga membuat lulusan AKPY-STIPER lebih siap memasuki industri. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi juga mengenal pekerjaan perkebunan secara langsung, termasuk mengamati cara mandor senior mengatur dan mengarahkan tim.

Bekal tersebut membuat Seria tidak merasa sepenuhnya awam ketika mulai bekerja. Pengetahuan teknis yang diperoleh selama pendidikan membantunya memahami pekerjaan lapangan, mengatur tenaga kerja, dan menjalankan tanggung jawab sesuai target.

Ia juga menilai pembelajaran mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi bagian penting dari persiapan memasuki industri sawit. Dalam pekerjaannya saat ini, aspek keselamatan, kesehatan, dan lingkungan berkaitan erat dengan keberlanjutan operasional perusahaan.

Menurut Seria, pekerja yang memahami prosedur keselamatan dan menjaga kesehatan serta lingkungan kerja akan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas. Hal itu turut mendukung kelancaran pekerjaan dan keberlanjutan operasional perkebunan.

Perempuan Punya Peluang Besar

Pengalaman Seria menunjukkan bahwa peluang karier perempuan di industri sawit terbuka luas. Ia melihat semakin banyak perempuan yang bekerja sebagai mandor panen, asisten lapangan, hingga penanggung jawab SHE.

Maka, ia mendorong mahasiswa AKPY-STIPER, khususnya perempuan, agar tidak membatasi diri dengan anggapan bahwa pekerjaan di perkebunan hanya cocok untuk laki-laki.

“Jangan pernah merasa bahwa dunia perkebunan hanya untuk laki-laki. Perempuan juga memiliki kesempatan untuk belajar, memimpin, dan berkembang di industri ini,” pesannya.

Seria mengingatkan mahasiswa untuk memanfaatkan masa kuliah dengan sebaik-baiknya, terutama melalui praktik lapangan dan magang. Kedisiplinan, keberanian menghadapi tantangan, dan kemauan untuk terus belajar juga perlu dibangun sejak dini.

Menurut dia, mahasiswa tidak perlu terlalu sibuk memikirkan apakah orang lain percaya terhadap kemampuan mereka. Hal yang lebih penting adalah terus belajar dan membuktikan kemampuan melalui tanggung jawab serta hasil kerja.

“Fokuslah untuk terus belajar dan membuktikan bahwa kita mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik,” katanya.

Perjalanan Seria menjadi gambaran bahwa pendidikan vokasi tidak hanya mempersiapkan lulusan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga membangun mental, keterampilan teknis, dan kepemimpinan yang dibutuhkan untuk mengembangkan karier.

Dari mandor perawatan hingga menjadi PIC SHE, Seria menunjukkan bahwa kesempatan berkarier di industri sawit dapat diraih melalui kompetensi, pengalaman, dan keberanian menghadapi tantangan.

Artikel Terkait