Palangka Raya, SAWIT INDONESIA — Masa depan industri kelapa sawit Indonesia tidak lagi hanya ditentukan luasnya lahan, kecanggihan teknologi, atau besarnya investasi. Di tengah semakin ketatnya persaingan global dan tuntutan keberlanjutan, kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya pekebun rakyat, kini juga menjadi faktor penentu.
Menjawab kebutuhan tersebut, Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) menggelar pelatihan Budidaya Kelapa Sawit serta Panen dan Pascapanen bagi 237 pekebun di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas petani sawit rakyat agar lebih siap meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas hasil, dan menjawab tuntutan industri sawit yang semakin kompetitif serta berkelanjutan.
Pelatihan yang berlangsung selama enam hari, 18–23 Juni 2026, di Palangka Raya ini menjadi bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang dirancang untuk memperkuat kemampuan teknis petani sawit rakyat agar lebih siap menghadapi dinamika industri.
Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, menegaskan bahwa tantangan industri sawit saat ini semakin kompleks. Mulai dari produktivitas kebun yang stagnan, tanaman tua yang membutuhkan peremajaan, hingga tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan berkelanjutan dan sistem ketelusuran.
“Keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul dan pupuk yang digunakan, tetapi juga oleh kualitas manusianya, kualitas petaninya,” ujar Dr. Idum saat acara pembukaan (Jum’at, 19 Juni 2026).
Menurutnya, investasi terbaik bagi petani bukan hanya membeli pupuk atau alat panen, tetapi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi kebun maupun kesejahteraan keluarga.
Dalam pelatihan tersebut, sebanyak 149 peserta mengikuti materi teknik budidaya kelapa sawit, sementara 88 peserta lainnya mendalami teknik panen dan pascapanen. Total peserta dibagi dalam delapan kelas agar proses pembelajaran lebih efektif.
Materi budidaya yang diberikan meliputi pemeliharaan tanaman, pemupukan berimbang, pengendalian gulma, konservasi tanah dan air, hingga penerapan good agricultural practices (GAP). Seluruh materi itu dinilai menjadi fondasi penting dalam meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat.
Sementara pada sesi panen dan pascapanen, peserta dibekali teknik panen sesuai standar, pengumpulan brondolan secara optimal, hingga percepatan pengiriman tandan buah segar (TBS) ke pabrik.
Dr. Idum menekankan, banyak petani kehilangan potensi pendapatan bukan karena rendahnya hasil produksi, melainkan akibat kesalahan dalam proses panen dan penanganan pascapanen.
“Kesalahan kecil dalam panen bisa berdampak besar pada kualitas buah, rendemen minyak, dan harga jual. Di sinilah pentingnya petani memahami standar yang benar,” katanya.
Sebagai salah satu provinsi dengan luas perkebunan sawit lebih dari 2,1 juta hektare, Kalimantan Tengah memiliki posisi strategis dalam industri sawit nasional. Karena itu, peningkatan kapasitas petani di wilayah ini dinilai akan memberi dampak besar terhadap produktivitas dan keberlanjutan sawit Indonesia secara keseluruhan.
Menutup sambutannya, Dr. Idum yang mewakili Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, SP,.MP, menegaskan bahwa petani sawit masa depan adalah mereka yang terus belajar, mampu beradaptasi dengan perubahan, memahami teknologi, dan menerapkan prinsip keberlanjutan.
“Sawit hebat tidak lahir dari kebun yang luas, tetapi dari petani yang terus belajar. Jika budidaya dilakukan dengan baik, panen sesuai standar, dan kelembagaan petani semakin kuat, maka produktivitas meningkat, pendapatan naik, dan kesejahteraan petani pun ikut tumbuh,” pungkasnya.
Sebagai informasi, pada hari kelima peserta mendapat kesempatan untuk kunjungan lapangan (field trip) ke kebun yang dikelola perusahaan. Untuk membuktikan dan memahami secara langsung materi yang sebelumnya diperoleh di ruang kelas. Melalui pengamatan langsung di lapangan (kebun dan pabrik).














