Palembang, SAWIT INDONESIA — Nama Tanah Deli selama ini identik sebagai tonggak awal kejayaan industri sawit nasional. Namun di balik sejarah besar itu, tersimpan jejak lain yang nyaris terlupakan. Palembang dan Sumatera Selatan ternyata pernah menjadi tanah awal uji coba benih sawit yang ikut membuka jalan Indonesia menjadi raja sawit dunia.
Ketua APINDO Sumatera Selatan sekaligus Chairman Founder WISPO (Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil), Sumarjono Saragih, menilai sejarah tersebut perlu dihidupkan kembali sebagai bagian penting dari narasi pembangunan sawit nasional modern.
"Di masa awal, benih itu berakar dan tumbuh di Palembang. Tanah uji coba benih yang nyaris terlupa. Jejak itu ada dan nyata," ujarnya.
Tahun ini, Indonesia memasuki 115 tahun sejarah perkebunan sawit komersial yang dihitung sejak penanaman pertama pada 1911 di Tanah Deli, Sumatera Timur. Namun jauh sebelum itu, kisah sawit Indonesia telah dimulai sejak 1848 ketika seorang Belanda bernama Dr. Pryce membawa empat benih kelapa sawit dari Afrika Barat ke Kebun Raya Bogor.
Awalnya, tanaman tersebut hanya dijadikan koleksi botani. Tak disangka, langkah sederhana itu berkembang menjadi fondasi industri strategis nasional. Bahkan Presiden Prabowo Subianto pernah menyebut sawit sebagai miracle crop atau tanaman ajaib.
Menurut Sumarjono, rekaman sejarah menunjukkan bahwa benih sawit dari Bogor sempat disebarkan ke berbagai wilayah Hindia Belanda untuk diuji coba. Salah satu lokasi pentingnya adalah Karesidenan Palembang. Berdasarkan catatan Van Heurn tahun 1948, sekitar tahun 1858, benih sawit ditanam di wilayah Palembang pada lahan seluas 1,2 hektare. Hasilnya dinilai menggembirakan karena tanaman mulai berbuah pada tahun keempat dengan tinggi batang sekitar 1,5 meter, lebih cepat dibandingkan habitat asalnya di Afrika Barat. Percobaan itu kemudian berkembang dari Palembang menuju Muara Enim hingga Ulu Musi pada rentang 1859–1864. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Sumatera Selatan bukan sekadar salah satu sentra sawit nasional, melainkan juga memiliki akar historis kuat dalam perkembangan industri sawit Indonesia.
Meski demikian, Tanah Deli akhirnya tampil lebih dominan karena dukungan teknologi dan kebijakan kolonial yang menjadikan wilayah itu sebagai pusat pengembangan perkebunan komersial. Pada 1911, perkebunan sawit komersial pertama dibuka di Sei Liput dan Tanah Raja di wilayah Sumatera Utara dan Aceh saat ini. "Pohon sawit mungkin berdaun lebat di Tanah Deli. Tapi ada akar kuat di tanah Palembang," kata Sumarjono.
Saat ini, Sumatera Selatan tetap menjadi salah satu kekuatan utama sawit nasional. Data tahun 2024 mencatat luas kebun sawit di provinsi tersebut mencapai sekitar 1,5 juta hektare dari total 16,4 juta hektare sawit Indonesia.
Menurutnya, sawit kini bukan hanya industri besar milik korporasi, melainkan sudah menjadi denyut ekonomi masyarakat luas. Jutaan pekerja, petani, buruh tani hingga pelaku usaha informal menggantungkan hidup pada sektor ini. "Tak berlebihan menyatakan isi dompet wong kito ada paparan aroma sawit," ujarnya.
Tak hanya menjadi sentra produksi, Sumatera Selatan juga melahirkan inovasi benih unggul sawit nasional seperti DxP Sriwijaya dan DxP Tania Selatan. Benih DxP Sriwijaya dikembangkan oleh PT Bina Sawit Makmur yang merupakan bagian dari POSCO International. Benih tersebut lahir dari riset para peneliti Indonesia, termasuk sentuhan inovasi dari Dwi Asmono. Sementara benih DxP Tania Selatan diproduksi oleh Wilmar Plantation dan dikenal luas di industri sawit nasional.
Di sisi lain, Sumatera Selatan juga terus mendorong praktik sawit berkelanjutan. Pada 2020, Sumarjono bersama Bupati Musi Banyuasin saat itu, Dodi Reza Alex, mendeklarasikan MSPOI (Muba Sustainable Palm Oil Initiatives) yang memperkenalkan pendekatan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi petani sawit.
Gerakan keberlanjutan itu kemudian berlanjut melalui GEBIE (Gender Equality in Business Initiatives Enthusiast) pada 2025 yang fokus pada perlindungan pekerja perempuan. Inisiatif tersebut dipimpin anggota DPD RI asal Sumatera Selatan, Ratu Teny Leriva.
Bagi Sumarjono, momentum 115 tahun sawit Indonesia menjadi saat yang tepat untuk menghidupkan kembali catatan sejarah Palembang sebagai bagian penting perjalanan industri sawit nasional. "Melalui industri sawit, Palembang dan Sumatera Selatan turut mewujudkan Asta Cita dan Indonesia Emas 2045," pungkasnya.














