• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

Dari Bibit Unggul hingga Hilirisasi, BPDP: Banyak Kemajuan Sawit Lahir dari Riset

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Kemajuan industri kelapa sawit Indonesia tidak lepas dari riset dan inovasi. Peningkatan produktivitas, penggunaan bibit tersertifikasi, pengembangan tanaman sawit berpostur lebih pendek, hingga produk hilir berbasis sawit merupakan hasil dari penelitian yang terus dikembangkan.

Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Zaid Burhan Ibrahim, mengatakan riset menjadi kunci menjaga daya saing dan keberlanjutan sawit nasional. Hal itu disampaikannya saat Sosialisasi Lomba Riset Tingkat Mahasiswa BPDP 2026-2027 di AKPY-STIPER, Yogyakarta, Sabtu (22/8/2026).

Zaid menyebut riset telah berkontribusi meningkatkan produktivitas sawit. Jika sebelumnya rata-rata produksi masih di bawah 20 ton per hektare per tahun, kini dapat mencapai lebih dari 30 ton.

“Dengan riset, penelitian, pengkajian, sekarang sudah di atas 30 ton,” katanya.

Riset juga mendorong penggunaan bibit tersertifikasi untuk meningkatkan kualitas bahan tanam. Selain itu, penelitian menghasilkan pengembangan tanaman sawit dengan pertumbuhan lebih lambat sehingga tidak cepat tinggi dan lebih mudah dipanen.

“Sekarang kita butuh yang lambat tumbuh, jadi tidak tinggi, pendek. Jadi untuk panen lebih mudah. Itu hasil riset,” ujarnya.

Menurut Zaid, dampak riset juga terlihat pada sektor hilir. Berbagai inovasi telah menghasilkan produk berbasis sawit, termasuk biomaterial dan produk turunan seperti helm dan bahan kosmetik.

“Hilirisasi juga begitu. Ada yang sudah membuat helm sawit, ada alat-alat kosmetik dan lain sebagainya. Itu dari hasil riset,” katanya.

Dorong Riset yang Terpakai

Berangkat dari berbagai hasil tersebut, BPDP mendorong mahasiswa menghasilkan penelitian yang tidak berhenti pada kepentingan akademik, tetapi mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat dan industri.

Zaid meminta mahasiswa peserta Lomba Riset Tingkat Mahasiswa BPDP 2026-2027 memunculkan ide kreatif dan membangun riset yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan sawit.

BPDP menyediakan tujuh bidang prioritas penelitian, yakni budidaya serta lahan dan tanah; pascapanen dan pengolahan; biomaterial dan oleokimia; pangan dan kesehatan; bioenergi; lingkungan dan pengelolaan limbah; serta sosial ekonomi dan pasar.

“Silakan munculkan ide-ide kreatif kalian sehingga nanti hasil-hasil riset kalian bisa bermanfaat dan digunakan untuk sawit kita semua,” ujarnya.

Menurut Zaid, penguatan riset dari hulu hingga hilir semakin penting untuk menjaga posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama sawit dunia, termasuk dalam mendukung pemanfaatan sawit untuk energi melalui program biodiesel B50.

“Keberadaan para calon periset ini sangat diperlukan untuk melakukan riset-riset yang sangat bermanfaat nantinya untuk keberlanjutan sawit Indonesia,” katanya.

1.344 Tim, Hanya 40 Lolos

Ketatnya persaingan terlihat dari Lomba Riset Tingkat Mahasiswa 2025-2026 yang diikuti 1.344 tim dengan 814 proposal. Dari jumlah tersebut, hanya 40 tim yang lolos administrasi.

Tiga pemenang berasal dari Universitas Tanjungpura sebagai juara pertama, Universitas Brawijaya sebagai juara kedua, dan Universitas Sumatera Utara sebagai juara ketiga.

Zaid menegaskan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi memiliki peluang yang sama untuk menjadi juara.

“Siapa pun punya peluang untuk menjadi juara. Dari Jogja, baik swasta maupun negeri punya peluang. Seriusi saja,” katanya.

Dalam lomba, peserta akan melalui seleksi, kunjungan lapangan, dan presentasi. BPDP menyediakan hadiah Rp110 juta sebagai motivasi. Namun, Zaid menekankan tujuan utama lomba adalah meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam penelitian, critical thinking, penulisan ilmiah, dan public speaking.

“Intinya kami ingin adik-adik mahasiswa ini punya kapasitas yang tinggi dalam meneliti. Kualitas riset harus ditingkatkan terus,” tegasnya.

Melalui riset yang aplikatif dan penguatan peneliti muda, BPDP berharap lahir inovasi baru yang memperkuat industri sawit dari kebun hingga hilirisasi. Mahasiswa yang kini mulai meneliti diharapkan menjadi bagian penting dari masa depan sawit Indonesia dalam lima, 10, hingga 20 tahun mendatang.

Artikel Terkait