• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Dari AAU, BPDP Tempatkan Karakter dan Disiplin sebagai Modal SDM Sawit

YOGYAKARTA, SAWIT INDONESIA — Menjadi tenaga profesional di industri kelapa sawit tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu dan teknologi perkebunan. Ketika memasuki dunia kerja, lulusan juga dituntut mampu memimpin, berkomunikasi, membangun jejaring, mengambil keputusan, serta menghadapi tekanan dan tantangan di lapangan.

Atas dasar kebutuhan tersebut, 1.535 mahasiswa penerima Beasiswa SDM Perkebunan BPDP dari enam perguruan tinggi mitra mengikuti Bina Mental, Fisik, dan Disiplin (Bintalfisdis) di Akademi Angkatan Udara (AAU), Yogyakarta, pada 28 September hingga 2 Oktober 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan calon SDM sawit yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki karakter, mental, fisik, disiplin, serta kemampuan berkomunikasi yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja.

Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Dida Gardera, S.T., M.Sc., mengatakan Bintalfisdis memiliki arti penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa sebelum terjun ke industri perkebunan.

“Kegiatan Bintalfisdis di tahun 2026 ini merupakan hal yang sangat penting,” kata Dida saat memberikan sambutan pembukaan kegiatan, Senin (28 September 2026).

Menurut Dida, kompetensi teknis yang diperoleh mahasiswa selama menjalani pendidikan perlu berjalan beriringan dengan pembentukan mental, fisik, karakter, dan kedisiplinan.

Modal Memasuki Dunia Kerja

Pada 2026, BPDP menyalurkan Beasiswa SDM Perkebunan kepada 5.000 peserta di seluruh Indonesia. Selain Yogyakarta, kegiatan Bintalfisdis juga digelar di sejumlah daerah, antara lain Aceh, Medan, Riau, dan Jakarta.

Khusus di Yogyakarta, 1.535 peserta berasal dari enam perguruan tinggi mitra BPDP, yakni 30 mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, 150 mahasiswa INSTIPER Yogyakarta, 845 mahasiswa Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER), 420 mahasiswa Politeknik LPP Yogyakarta, 30 mahasiswa Universitas Tunas Pembangunan Surakarta, dan 60 mahasiswa Politeknik YKPN.

Dida menilai karakter menjadi bagian penting dalam penyiapan SDM karena lulusan perkebunan nantinya tidak hanya bekerja dengan tanaman, mesin, teknologi, atau data. Mereka juga akan berhadapan langsung dengan manusia dan masyarakat.

“Posisi adik-adik pada saat bekerja tentu menjembatani kegiatan dari perkebunan, baik yang dikelola oleh masyarakat maupun perusahaan, dengan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Peran tersebut membutuhkan kemampuan komunikasi dan jejaring sosial yang baik. Seorang profesional perkebunan, kata Dida, perlu mampu membangun hubungan dan menjadi penghubung antara kepentingan dunia perkebunan dengan masyarakat.

“Menjadi agent, menjadi jembatan untuk berkomunikasi dengan masyarakat luas di luar, di samping pekerjaan yang memang harus adik-adik lakukan nantinya,” katanya.

Kemampuan tersebut menjadi bagian dari kepemimpinan yang dibutuhkan di sektor perkebunan. Kepemimpinan tidak hanya ditunjukkan melalui posisi atau jabatan, tetapi juga melalui kemampuan membangun kepercayaan, berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan mengambil tanggung jawab.

Semakin Besar Sawit, Semakin Besar Tantangan

Dida juga mengingatkan mahasiswa bahwa posisi strategis kelapa sawit membawa konsekuensi berupa tantangan yang semakin besar.

Ia menggambarkannya melalui filosofi sederhana. “Semakin tinggi pohonnya, semakin tinggi kelapa sawitnya, semakin kencang juga anginnya,” ujarnya.

Filosofi tersebut menggambarkan bahwa semakin besar peran sawit bagi perekonomian Indonesia, semakin besar pula tantangan yang akan dihadapi oleh SDM yang bekerja di dalamnya.

Sejalan dengan tantangan tersebut, mahasiswa penerima beasiswa perlu mempersiapkan diri sejak masa pendidikan. Mereka tidak hanya harus memahami persoalan teknis perkebunan, tetapi juga memiliki daya tahan mental, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, dan kesiapan menghadapi dinamika pekerjaan.

Bintalfisdis di AAU menjadi salah satu ruang untuk membangun fondasi tersebut.

“Oleh karenanya, pelatihan, baik materi substansi yang terkait dengan kelapa sawit ataupun yang terkait dengan fisik, tentu ini akan membina mental dan fisik adik-adik,” kata Dida.

Pembentukan karakter tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa ketika kelak memasuki berbagai posisi di industri sawit. Mereka dapat berkembang menjadi tenaga teknis, mandor, asisten, manajer, profesional, hingga pemimpin di sektor perkebunan.

Membangun Jejaring Calon Pemimpin Sawit

Bintalfisdis juga menjadi momentum mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dalam satu proses pembinaan.

Pertemuan lintas kampus tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk saling mengenal, membangun komunikasi, bekerja bersama, dan memperkuat solidaritas.

Dida mendorong mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membangun jejaring yang dapat menjadi modal ketika mereka nantinya memasuki dunia kerja dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“Ini menjadi salah satu momentum menjalin jejaring, menjalin komunikasi, dan juga saling mengenal, saling bantu, memperkuat soliditas,” katanya.

Menurut Dida, jejaring tersebut penting karena industri sawit memiliki cakupan yang luas dan melibatkan banyak pihak, mulai dari perusahaan, pekebun rakyat, pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat di sekitar perkebunan.

Pembentukan SDM sawit tidak berhenti pada penguasaan ilmu di ruang kelas. Karakter, disiplin, kemampuan bekerja dalam tim, komunikasi, dan kepemimpinan menjadi bagian dari bekal yang perlu dibangun sejak mahasiswa.

Dida berharap peserta mengikuti Bintalfisdis dengan sungguh-sungguh sehingga kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang kuat secara fisik, tetapi juga memiliki karakter dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

“Sehingga nanti bisa tetap menjaga komoditas sawit ini tetap menjadi primadona ekonomi Indonesia dan juga sebagai alat untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Bagi BPDP, investasi pada SDM bukan hanya menyiapkan tenaga kerja untuk kebutuhan industri hari ini. Pembentukan karakter sejak bangku pendidikan menjadi bagian dari menyiapkan generasi yang kelak mampu mengambil tanggung jawab dan memimpin perkembangan sektor sawit Indonesia.

Artikel Terkait