• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Dampak Tarif Trump Terbatas, Mandatori Biodiesel Justru Jadi Penentu Pasokan Sawit

Bali, SAWIT INDONESIA - Kebijakan reciprocal tariff yang diterapkan pemerintahan Donald Trump pada 2025 dinilai memicu kecemasan atas potensi perlambatan ekonomi global. Namun, dampaknya terhadap perdagangan minyak sawit diperkirakan relatif terbatas. Hal itu disampaikan Oscar Tjakra, Executive Director Rabobank Global Rabo Research Food & Agribusiness, dalam pemaparannya pada ajang Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali.

Menurut Oscar, porsi impor minyak sawit Amerika Serikat sangat kecil dibandingkan pergerakan perdagangan sawit dunia, sehingga efek langsung kebijakan tarif ini diperkirakan tidak signifikan terhadap pasar global.

“Pasar sawit secara fundamental masih kuat. Volume impor sawit AS tidak cukup besar untuk mengubah arah pasar global,” ujar Oscar, Kamis (13 November 2025).

Meski dampaknya terbatas secara global, Oscar menilai perbedaan tarif antara Indonesia dan Malaysia dapat menciptakan peluang jangka pendek bagi Negeri Jiran. Produk olahan seperti RBD olein dan stearin berpotensi mengalami lonjakan permintaan dari pasar Amerika Serikat.

“Struktur tarif baru ini dapat membuat produk olahan Malaysia lebih kompetitif di pasar AS dalam beberapa waktu ke depan,” jelasnya.

Di tengah tren kenaikan harga sejumlah komoditas akibat kebijakan tarif, minyak sawit tetap menjadi opsi ekonomis bagi pelaku industri Amerika Serikat. Pertumbuhan konsumsi minyak nabati di sektor pangan olahan dan produk kemasan juga menjaga stabilitas permintaan sawit.

“Dari sisi harga dan fleksibilitas penggunaan, sawit masih menawarkan keunggulan dibandingkan soybean oil atau sunflower oil,” kata Oscar.

Mandatori Biodiesel Jadi Faktor Utama Penghambat Ekspor

Oscar menilai perlambatan pertumbuhan perdagangan sawit dalam beberapa tahun terakhir lebih dipengaruhi oleh faktor domestik, yakni ekspansi kebijakan biodiesel di Indonesia. Program energi seperti B35 dan rencana implementasi B50 pada 2028 menyerap porsi besar produksi sawit nasional.

“Ketersediaan untuk ekspor makin terbatas. Ini akan memperketat pasokan global dalam jangka menengah,” terangnya.

Tidak hanya Indonesia, Amerika Serikat dan Brasil juga memperluas mandatori biodiesel berbasis minyak kedelai. Pergeseran pasokan kedelai dari pangan ke energi dapat membuka ruang lebih besar bagi sawit sebagai alternatif minyak nabati utama di pasar dunia.

Meski demikian, Oscar mengingatkan bahwa pelonggaran kebijakan energi dapat meningkatkan kembali pasokan minyak nabati alternatif sehingga mengurangi ketatnya pasar sawit global.

Oscar menegaskan permintaan sawit dunia akan tetap stabil, bahkan cenderung meningkat. Urbanisasi, pertumbuhan penduduk, serta meningkatnya konsumsi produk siap saji akan terus mendorong kebutuhan minyak nabati, khususnya sawit.

“Fundamentally, demand for palm oil remains robust. Price competitiveness will keep palm oil relevant, regardless of short-term policy noise,” tutup Oscar.

Artikel Terkait