Dadang Gusyana, S.Si, MP menjadi salah satu tokoh yang menerima penghargaan di ajang 4th Sawit Indonesia Award 2025. Ajang apresiasi yang diinisiasi oleh Majalah Sawit Indonesia kepada pihak-pihak yang berkontribusi dalam mendukung sektor industri sawit nasional.
Di tahun ini, ada 45 penerima penghargaan Sawit Indonesia Award (SI Award), terdiri dari tokoh, lembaga, pelaku usaha (perusahaan sawit) dan supporting-nya, lembaga pendidikan dan lembaga pelatihan.
Dadang Gusyana menerima penghargaan SI Award untuk kategori ‘Inovator Pengembangan Program Sawit Rakyat Berkelanjutan’, yang diserahkan langsung oleh Yasin Permana selaku Direktur Marketing Majalah Sawit Indonesia, pada Selasa (16 Desember 2025), di Jakarta.
Dari informasi yang dihimpun tim redaksi Majalah Sawit Indonesia, Dadang Gusyana merupakah insan yang memiliki sepak terjang dalam mendukung perkelapasawitan Indonesia. Upaya-upaya yang dilakukan antara lain mengedukasi petani sawit dalam menghadapi dan mengendalikan serangan jamur Ganoderma di tanaman sawit, terutama kebun sawit yang dikelola petani rakyat. Langkah konkrit inilah sebagai upaya dalam mendukung sawit berkelanjutan.
Ganoderma merupakan penyebab penyakit busuk pangkal batang dan busuk batang atas pada tanaman kelapa sawit. Kejadian serangan ganoderma pada perkebunan kelapa sawit sudah lama dilaporkan. Penyakit maut itu datang dengan ciri daun berwarna hijau pucat atau nekrosis serta daun tua layu, melengkung, dan patah.
Penyakit mematikan itu cepat menular ke tanaman sehat setelah akarnya bersentuhan dengan tunggul batang atau akar tanaman sakit dan terjadi perlukaan. Gejala lainnya, terbentuknya daun tombak lebih dari 3 buah dan muncul getah di tempat yang terinfeksi.
Lalu, bagaimana cara mengendalikan penyakit (Ganoderma) yang menjadi momok pelaku usaha sawit (perusahaan dan petani) yang selama ini disebarluaskan Dadang?
Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan menggunakan trichoderma. Trichoderma merupakan musuh alami dari ganoderma dan akan secara alami muncul ketika pohon sawit terserang jamur ganoderma. Trichoderma akan berkembang biak dengan baik bila ada unsur karbohidrat di dalamnya dan secara alami akan memakan jamur ganoderma.
Pengendalian pada tanaman sawit yang berpotensi terkena ganoderma dapat dilakukan dengan melakukan monding atau penimbunan pangkal batang. Lantas, pangkal batang tersebut dapat ditaburkan dengan mikoriza sebanyak 300 gram lalu ditimbun dengan tanah. Akar – akar baru nantinya akan tumbuh setelah satu bulan atau dua bulan.
Upaya pengendalian Ganoderma terus dilakukan Dadang, terutama pengendalian dari serangan yang menempa perkebunan sawit rakyat.
Saat menyampaikan sambutan, Dadang mengatakan upaya-upaya untuk mendukung keberlanjutan sawit adalah hal yang harus dilakukan oleh setiap insan yang berkecimpung di sektor industri sawit.
“Tidak hanya tagline, melainkan harus diwujudkan dengan upaya-upaya konkrit untuk mendukung sawit berkelanjutan,” ujarnya singkat pada Selasa (16 Desember 2025), di Jakarta.
Pada kesempatan berbeda, Ketua Pelaksana 4th Sawit Indonesia Award 2025 sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri menegaskan bahwa pihkanya telah mengetahui kontribusi (pak Dadang) di sektor perkelapasawitan nasional. Salah satunya sebagai inisiator dalam hal pengendalian Ganoderma di perkebunan sawit.
“Dalam berbagai kesempatan seminar dan talkshow (pak Dadang) menjadi narasumber dalam rangka pengendalian Ganoderma. Bahkan, kerap kali mengedukasi petani sawit rakyat agar memahami penyakit dan pengendalian tanaman Ganoderma, yang akan berdampak ekonomi bagi pembudidaya sawit. Upaya yang dilakukan dalam rangka pengembangan sawit rakyat,” katanya.
“Maka, atas upaya yang dilakukan layak atau patut diberi apresiasi, dalam bentuk penghargaan di ajang SI Award 2025. Di tahun 2025, pak Dadang menjadi salah satu tokoh (insan sawit) yang menerima penghargaan SI Award untuk kategori ‘Inovator Pengembangan Program Sawit Rakyat Berkelanjutan’,” pungkas Qayuum.














